Rabu, 06 Mei 2015

Akunya, Dia.

Cerita ini lagi-lagi untuk kamu, iya kamu. Kamu yang sudah bertahun-tahun berlalu pergi tanpa penjelasan. Bagaimana bisa aku masih saja bebal untuk menunggumu. Menunggu penjelasan darimu lebih tepatnya. Aku masih saja bebal berdiri pada kemustahilan yang sebenarnya bisa saja ku halau dari hari kemarin.

Dua bulan lalu, aku masih saja terpekur pada kenangan yang kendatinya tak bisa terulang lagi. Bahkan malam sepertinya enggan menemani sepi dalam hatiku yang kosong. Langitpun ikut andil memusuhiku karena keengganannya untuk bersahabat lagi denganku, katanya aku terlalu dungu. Dan juga bintang yang sepertinya telah lelah bersuara menasehati aku yang terlalu bebal. 
Pada akhirnya, aku merelakan malamku pergi. Berjalan dan terus berjalan mencari pelarian. Hingga kutemukan Matahari di pagi hari. Katanya, aku terlalu bodoh. Diberikannya aku sebuah kotak untuk menyimpan semua lukaku pada masalalu. Kemudian dia berbisik, bahwa akan ada sosok yang lebih bisa menghargai aku di ujung jalan sana. Dipaksanya aku untuk berjalan, dan dia menantangku untuk tidak lagi menoleh kebelakang selama berjalan. Meski ragu menemaniku, aku menyanggupi.
Dan, disinilah aku berdiri. Menatap lekat pria bermata sipit yang berkulit hitam manis. Dia tersenyum melihatku. Mengulurkan tangannya. Meraih diriku dan memelukku. Kamu pernah berbahagia? Bagaimana rasanya? Apakah jantungmu bersuara dengan keras? Apakah tubuhmu tiba-tiba menggigil? Yaaa, aku sedang merasakan itu. Aku bahagia.

Dengannya, aku tak ingat lagi luka atas kepergianmu. Tak lagi ku harap penjelasan darimu, sebab Tuhan dengan sangat jelas menjelaskan padaku, mengapa kamu pergi begitu saja. Sudah pasti karena kamu bukan pria yang tepat untukku.

Terimakasih sudah pergi meninggalkanku dengan luka yang sebegini dalamnya. Hingga pada akhirnya, Semesta luluh untuk membantu mengobati lukaku dengan menuntunku pada pria yang lebih menghargai aku. Dan kamu, selamat tinggal. Aku pergi dengan penjelasan yang jelas bukan? Aku pergi karena dia.

Sabtu, 11 April 2015

Pergilah

Saat kamu memintaku untuk menjauh. Ada rasa sedih yang tidak bisa lagi ku bendung. Ada rasa marah dan kecewa yang tidak bisa lagi ku tunjukkan. Aku kembali pulang dan tertidur dalam pelukan airmata yang tak lagi basah. Isakan tangis yang tak lagi bisa kau dengar, menambah kopong hatiku.

Pakaianku adalah pakaian-pakaian yang kekurangan bahan. Auratku bebas dipandang oleh siapapun. Rambutku tidak berwarna hitam pekat, sengaja ku beri warna yang menyala saat terakhir ke salon. Ada tindikan lebih dari satu di telingaku. Juga ada dua tatto di bagian belakang leher dan lengan atas. Aku memang berbeda dengan perempuanmu yang sekarang, sayang.

Pergilah jika memang kamu enggan untuk bertahan. Aku tidak bisa lagi menahanmu lebih lama. Sekarang atau lusa, perih lukanya akan terasa sama. Bukankah lebihbaik aku melepasmu lebih cepat?

Perempuanmu itu hebat. Bisa membuatmu tak lagi pedulikan aku. Bisa membuatmu kehilangan alasan-alasan yang dulu kamu pakai untuk mempertahankanku tiap kali aku ingin beranjak pergi. Bisa membuatmu menjadi tega menyuruhku pergi dan menghilang.

Berbahagialah, sayang. Karena aku pun telah bahagia melepasmu dengan perempuan baik itu. Berlarilah bersamanya. Karena aku pun akan berlari menjauh darimu, sejauh yang aku bisa.

Masa lalu (?)