Selasa, 30 Januari 2018

Review Buku : Reflection


Judul Buku : Reflection
Pengarang : Aya Swords, Tita Rosianti, Adeliany Azfar
Penerbit : PT Grasindo
Diterbitkan, pertama kali : Jakarta, Juli 2015
Cover Design : Dyndha Hanjani Putri
Editor : Fanti Gemala
Tebal : 232 hlm, 20 cm
ISBN : 978-602-375-109-9

Sinopsis :

Emily dan Elysa tidak tahu apa yang sedang mengancam hidup mereka. Kematian sang Ibu dan kepindahan ke rumah baru yang penuh dengan kejutan mengerikan telah merenggut malam-malam penuh ketenangan keduanya. Pengakuan Elysa, itu semua karena Boy. Sosok yang mengawasi setiap gerak-gerik mereka dalam rumah yang penuh teror itulah yang telah mengubah segalanya. Namun Emily yakin Elysa hanya mengada-ada. Hingga suatu saat, Emily mengalaminya sendiri.

Dan setelah semuanya terlambat, akhirnya mereka menyadari bahwa semua mimpi buruk itu adalah perbuatan seseorang yang tidak terduga sebelumnya. Dan dia tidak akan pernah berhenti, sampai semua yang menghalangi jalannya tersingkirkan.

Bulan itu. Juni. Bulan tragedi.

Novel terbitan tahun 2015 ini, ditulis oleh tiga orang penulis dan dibagi dalam tiga sudut pandang. Ada sudut pandang dari Emily, Boy dan yang terakhir adalah sudut pandang Elysa.

Bab pertama pada sudut pandang Emily, cukup berhasil bikin aku penasaran. Penasaran dengan sikap Elysa yang ‘aneh’. Karena Elysa ini typikal anak yang sulit berkomunikasi dan bersosialiasi, jadi dia lebih cenderung tidak pernah mau berselisih pendapat dengan siapapun. Awalnya kupikir Emily dan Elysa ini bukan anak kembar, hanya adik-kakak kandung. Begitu tahu mereka anak kembar, langsung ingat Eliza dan Erika dari Novel Omen Seriesnya Kak Lexie Xu.

Ketika bab pertama sudah disuguhkan tentang kematian mama mereka, aku yang sedang baperan ini, ikut merasakan pedihnya mereka. Mungkin aku akan melakukan hal yang sama seperti Elysa, tapi mungkin juga akan melakukan hal yang Emily lakukan.

Secara keseluruhan, untuk sudut pandang yang diambil dari sisi Emily, aku sangat menikmati. Dari sayangnya Emily ke Elysa, kurangnya kasih sayang yang mereka dapatkan dari Papanya, ketakutan-ketakutan Elysa, dan keceriaan Emily yang juga membuat aku menyukai karakternya.

Rasanya, aku tidak ingin sudut pandang Emily berakhir. Sudut pandang yang sukses sekali dibuat oleh penulis. Ringan dan mengalir. Ini tentu membuatku semakin penasaran, siapa sih sebenarnya dalang dari semua ini? Apakah Emily yang mungkin saja melakukan semuanya dan menutupinya dengan keceriaan yang ia miliki? Apalagi ia menceritakan bahwa mamanya lebih menyukai Elysa. Atau Elysa? Saudara kembar Emily yang sulit bersosialisasi dengan orang lain dan iri kepada Emily lah yang menjadi alasannya. Atau Boy, laki-laki yang hanya mau menemui Elysa, karena tubuh Elysa lebih lemah dibandingkan Emily?

Baiklah mari kita lanjutkan ke sudut pandang Boy.

Ketika sudut pandang berganti menjadi sudut pandang Boy, aku terhempas. Rasanya sakit sekali ketika sedang melambung karena penasaran, lalu dijatuhkan oleh narasi yang membuatku melongo dan membuatku jadi bertanya-tanya. Loh kok begini? Ah!

Sangat banyak sekali kalimat-kalimat yang sangat mengganggu dan ini sangat merusak jalan cerita yang sudah dibangun dengan apiknya oleh si penulis dari sudut pandang Emily. Tidak ada lagi cerita mengalir seperti cerita yang sebelumnya, setiap kalimat sukses membuatku lebih banyak mengerutkan dahi dan misuh-misuh. Selain itu, membaca bagian ini, membuat pikiranku buntu. Semakin malas menebak siapa dalang dari semuanya.

Sampai pada akhirnya, aku memaafkan si penulis dari sudut pandang Boy karena pada sudut pandang Elysa diberi jalan cerita yang nyaris seperti sudut pandang Emily. Meskipun terkesan sebagai pelengkap yang maksa karena hanya tinggal mengikuti kisah-kisah sebelumnya, setidaknya kalimat-kalimatnya tidak membuatku merasa gemas sendiri.

Dan, yang terpenting diberi ending yang apik, meskipun endingnya sama persis dengan dugaan awalku. Juga senang sekali melihat cover novel ini. Simple dan penuh dengan misteri. Terlihat jelas dari dua siluet seorang perempuan yang sangat mirip—Emily dan Elysa. Juga judul yang sangat, pas. Nice!

Bagian-bagian yang membuatku gemas dan membuatku misuh-misuh sendiri ketika membaca :

*Page of 81 : ASTAGAJIM, di mana ini? (Dengan alasan apa ya penulis menggunakan kata ASTAGAJIM? Kenapa ngga diganti dengan Astaga, aja? Huft.)

*Page of 83 : Di label obat tertulis harus dimakan setiap hari, macam-macam waktunya, tapi standar: pagi, siang, malam, sebelum makan dan sesudah makan. Enggak ada yang tertulis “Obat diminum sebelum galau.” Atau “Sesudah diputusin pacar.” (Kok ini jayus banget ya dibacanya? Terkesan maksa untuk memanjangkan kalimat, dan pada akhirnya justru merusak kata-kata sebelumnya. Rasanya lebih baik jika diakhiri tanpa banyolan tak berbobot seperti ini.)

*Page of 83 : Seketika pil-pil berhamburan di lantai. Mengeluarkan suara sedikit berisik, bersamaan dengan suara botol-botol kosong yang bergulir hingga ke ujung lemari pakaian. Biar, biar mengaduh sampai gaduh, Cyiiiinnn... (Sumpah, ini makin aneh. Terlalu berlebihan mengutip kata ini untuk mengumpamakan pil-pil yang berantakan.)

*Page of 91 : Ya ampun, Nyonya, Cuma gara-gara hilang es mambo sebungkus, terus situ jadi murka begini? (Ini kalimat macam apa sih? Sungguh merusak.)

*Page of 92 : Ya ampun, kalau saja waktu itu sudah muncul berita-berita mengenai Komisi Perlindungan Anak, mungkin aku sudah meminta Elysa untuk meminta bantuan kesana dan memasukkan mamanya ke penjara. (Memang sih, tahun 1999 Komisi Perlindungan Anak belum dibentuk. Tapi rasanya, kalau memang sikap orangtuanya separah itu, bisa tetap lapor polisi deh. Dan kalimat “Kalau saja waktu itu.” Ini maksudnya piye sih? Memang sih alur pada cerita ini maju mundur, tetapi kok aku bacanya kayak kurang ngepas, ya? Kurang ngeklik.)

*Page of 94 : Sedangkan sang Mama tampak kecewa karena belum sempat melakukan Jurus Kamehameha. (Please, hey! Ngga semua pembaca tahu jurus ini, meskipun sudah diberi keterangan dari film kartun apa. Kurang tepat rasanya diberi tambahan jurus ini di kalimat ini.)

*Page of 95 : Selain bete habis digampar, Elysa juga harus mencuci bekas sentuhan Mamanya pakai tanah tujuh kali, atau dicuci di tujuh sumur. Capek deh! (Kasar nggak sih? Memangnya tamparan mamanya merupakan najis? Bukankah terlalu berlebihan menyamakan seorang Ibu dengan hewan najis seperti itu? Gilak! Lawak banget.)

*Page of 106 : Kalau semua bagus, apa Elysa pernah mempertimbangkan kemungkinan fatal lain, misalnya bau ketek? Ih, memangnya dia mau meneruskan generasi bau-bau ini ke anak-anak mereka kelak? (What the hell!! Sejak kapan orang yang mau menikah kepikiran soal bau ketek? Apa si penulis ini belum pernah merasakan rasanya menemukan calon teman hidup? Bau ketek itu soal biasa. Please, deh!)

*Page of 107 : Aku kan enggak mungkin minta bantuan dukun, mau bayar pakai apa coba? Celana dalam ekstra saja aku enggak punya. (Penting nggak sih, bahas celana dalam? Ini novel genre apa sih sebenarnya? Komedi? Duh, rasanya aku semakin ingin misuh-misuh. Gemas!) 

*Page of 142 : Dia mulai mengajukan pertanyaan yang sangat intimidatif. Tuduhannya itu semakin membuatku sebal, apalagi Elysa mulai melempariku dengan pil. Ya ampun, El! Kamu itu mentang-mentang kepingin buru-buru nikah, sampe kepikiran nyawer pil sama aku. Dimana-mana juga saweran itu pake permen, uang, mie instan, HP, atau kulkas. Biar kerasa benjutnya pas kena kepala. (Serius, si penulis kayaknya cocok banget deh jadi penulis bergenre komedi jayus.)

Wah, lumayan banyak ya kalimat yang ku sisipkan karena membuatku gemas.

Kalau teman-teman mau baca cerita yang bergenre thriller-psychology, novel ini masih termasuk recommended loh ya..

1 komentar: