Sabtu, 11 April 2015

Pergilah

Saat kamu memintaku untuk menjauh. Ada rasa sedih yang tidak bisa lagi ku bendung. Ada rasa marah dan kecewa yang tidak bisa lagi ku tunjukkan. Aku kembali pulang dan tertidur dalam pelukan airmata yang tak lagi basah. Isakan tangis yang tak lagi bisa kau dengar, menambah kopong hatiku.

Pakaianku adalah pakaian-pakaian yang kekurangan bahan. Auratku bebas dipandang oleh siapapun. Rambutku tidak berwarna hitam pekat, sengaja ku beri warna yang menyala saat terakhir ke salon. Ada tindikan lebih dari satu di telingaku. Juga ada dua tatto di bagian belakang leher dan lengan atas. Aku memang berbeda dengan perempuanmu yang sekarang, sayang.

Pergilah jika memang kamu enggan untuk bertahan. Aku tidak bisa lagi menahanmu lebih lama. Sekarang atau lusa, perih lukanya akan terasa sama. Bukankah lebihbaik aku melepasmu lebih cepat?

Perempuanmu itu hebat. Bisa membuatmu tak lagi pedulikan aku. Bisa membuatmu kehilangan alasan-alasan yang dulu kamu pakai untuk mempertahankanku tiap kali aku ingin beranjak pergi. Bisa membuatmu menjadi tega menyuruhku pergi dan menghilang.

Berbahagialah, sayang. Karena aku pun telah bahagia melepasmu dengan perempuan baik itu. Berlarilah bersamanya. Karena aku pun akan berlari menjauh darimu, sejauh yang aku bisa.

Masa lalu (?)

Selasa, 31 Maret 2015

ALICE

Saat menulis ini, aku sengaja mengabaikan beberapa pekerjaan yang sudah menumpuk di ujung meja kerjaku. Sengaja ku tutup semua jendela Microsoft Excel  agar pikiranku tak mengarah pada table-table yang dipenuhi angka-angka—si pembuat mual. Di selingi dengan memasukan sesendok Cream Soup yang pada jam makan siang tadi, baru saja dibelikan olehmu.

Beberapa orang memanggilmu dengan sebutan Kak, tapi aku lebih suka memanggil kamu dengan sebutan Mbak. Agar aku tak merasa asing saat bertegur sapa denganmu. Sayangnya di kantor nggak ada yang manggil kamu cici atau teteh yaa, hihi. Ah apapun panggilan untukmu, yang pasti kami menghormati kamu sebagai partner kerja yang lebih tua dibanding kita semua.

Dua atau tiga tahun lalu, saat baru mengenal kamu, aku enggan berakrab-akrab denganmu. Mukamu yang juteknya jauh lebih jutek daripada aku, membuat aku merasa tersaingi (yang ini bercanda). Mata kamu yang tajam saat melihat orang, membuat siapapun akan bergumam “Ih nih orang judes banget sih…”  Dan, siapapun yang mendapatkan jawaban-jawaban singkat dari kamu, pasti akan membatin hal yang sama “Nih cewek sombong banget sih..”

Tapi, semua itu terpaksa aku hapus saat lama-lama aku mengenal kamu. Kamu baik. Kamu penyayang. Kamu nggak sejudes dan sejutek yang aku pikirkan selama ini. Kamu punya pemikiran-pemikiran luar biasa, pemikiran yang nggak dimiliki oleh semua orang. Meskipun kamu selalu bilang “Gue nggak tau yaa, apa gue yang nggak normal atau gimana, soalnya yang gue pikirin tuh selalu beda dari kalian.. blablabla…”  Yeah, kamu memang selalu begitu, Mbak. Selalu beda. Tapi yaa itulah kamu.