Saat aku dengan tak sengaja menemukan kebohonganmu, aku tak bisa lagi memaki dan membenci. Rasanya tak percaya bahwa foto itu adalah dirimu. Bagaimana mungkin, wajah seriusmu mampu berdusta. Tidakkah kamu berpikir dua kali untuk membohongiku? Tidakkah kamu berpikir bagaimana reaksiku ketika aku mengetahui kebohonganmu? Ah, kamu lucu, sayang.
Bagaimana mungkin aku masih saja tidak bisa membencimu sayang? Terlalu bodohkah aku ini? Harus sebegini besarnyakah rasa sayangku padamu, sayang? Bahkan saat pertama kali aku menanyakan kebenaran foto itu, aku sangat percaya pada jawabanmu. Aku percaya kamu tidak akan bermain-main dibelakangku. Aku percaya kamu tidak akan semurah itu, sayang.
Dan, bagaimana mungkin aku masih saja bisa tertawa sebegini kerasnya saat aku sadar, bahwa yang ku cintai bukan pria berkelas. Tapi cinta ini, lagi-lagi membodohiku, sayang. Cinta yang besar ini, tidak bisa menendangmu dengan hina. Bahkan yang kulakukan adalah menenggelamkan kepalamu dalam pelukanku.
Maaf dan maaf lagi yang kau ucap, aku jengah sayang. Bisakah kau mengganti ucapanmu? Kamu bisa mengucapkan cinta, mungkin. Atau sekedar rayuan gombal yang menerbangkan.
Ah, lupakan. Aku tahu kamu tidak akan mengucapkan itu. Biarkan aku yang mengucapkan itu untukmu. Aku mencintaimu, sayang.
Dan, bagaimana mungkin aku masih saja bisa tertawa sebegini kerasnya saat aku sadar, bahwa yang ku cintai bukan pria berkelas. Tapi cinta ini, lagi-lagi membodohiku, sayang. Cinta yang besar ini, tidak bisa menendangmu dengan hina. Bahkan yang kulakukan adalah menenggelamkan kepalamu dalam pelukanku.
Maaf dan maaf lagi yang kau ucap, aku jengah sayang. Bisakah kau mengganti ucapanmu? Kamu bisa mengucapkan cinta, mungkin. Atau sekedar rayuan gombal yang menerbangkan.
Ah, lupakan. Aku tahu kamu tidak akan mengucapkan itu. Biarkan aku yang mengucapkan itu untukmu. Aku mencintaimu, sayang.
Ketahuilah duhai engkau, kekasih yang posisimu kini merajai hatiku, bahwa memang aku memaafkanmu, tapi juga dengan dusta. Aku menguatkan mataku agar tidak lagi ada air mata yang mengalir sendu hanya untuk mengingat kebohongan indahmu. Bagaimana mungkin kata manis yang kau ucap itu hanya sebuah kalimat semu tanpa nyawa? Entah kekuatan apa yang merasukiku sampai tak ada celah untuk kuhinakan dirimu di mataku. Aku mencintaimu, sayang.
BalasHapus