Selasa, 27 September 2016

Maafkan aku, Sayang

Sejak kapan? Dua minggu. Kamu mencintainya? Tidak. Kamu menyukainya? Entah, aku ragu.

Kami diam dalam bising kendaraan yang kebetulan melintas. Aku sibuk dengan degup yang terus bergemuruh. Dan laki-laki yang masih tetap aku cintai sampai dengan detik ini, yang saat ini sedang duduk dihadapanku, bergelut dengan pikirannya sendiri. Pikiran yang tak mampu lagi kubaca. Dari sorot matanya, kulihat luka yang baru saja menganga. Luka besar yang sangat menghancurkan hatinya. Luka yang dibuat oleh diriku sendiri.

Betapa hanya dengan laki-laki yang baru saja kutemui sebulan lalu, yang katanya baru saja terluka oleh perempuannya, yang katanya lebih suka dengan perempuan jawa, yang katanya baru saja merantau ke Jakarta, dan dengan katanya-katanya yang lain. Kenapa dengan hatiku?


***
“Bagaimana dengan pacarmu?” Tanyanya
“Baik. Dia sedang sibuk.”
“Mau jalan nonton?” Ajaknya untuk yang kesekian kalinya.
“Tidak. Pacarku akan menjemput.”
“Nanti ku antar pulang.”
“Tidak. Aku tidak ingin pergi tanpa sepengetahuan pacarku.”
“Baiklah.” ... “ Kamu sangat mencintai pacarmu?” Tanyanya untuk yang terakhir kali.
“Iya.” Jawabku tanpa ragu, lalu pergi.

***
Bagaimana mungkin hanya dengan kesibukanmu yang hanya sedemikian, mampu membuat pikiranku serendah ini? Padahal aku yakin, cintamu tak dapat kuragukan lagi. Aku salah. Aku bodoh.

Aku membiarkan laki-laki yang berada dihadapanku ini, bertengkar dengan dirinya sendiri. Aku tidak ingin semakin memperkeruh keadaan yang sebenarnya sudah berantakan. Aku sendiripun hanya berani menenggelamkan diriku sendiri dalam jurang sesal, memaksanya terjun agar turut merasakan luka.

“Aku cinta kamu. Aku sayang kamu. Aku ingin terus berjalan bersamamu. Tetapi, aku butuh waktu.”

Ya. Aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain memberimu waktu.

Karena apapun alasannya, sebuah kesalahan yang nyaris disebut sebagai pengkhianatan, tidak akan dapat di tolerir. Sebesar apapun cinta dan sayang yang sudah kita beri di hari-hari sebelumnya, tidak dapat menebus maaf atas kesalahan tersebut. Hanya sesal yang pada akhirnya menemanimu berjalan. Tergantung pada dirimu sendiri, tetap akan berdiam, atau berjalan dan memperbaiki segalanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar