Sejak kapan? Dua minggu. Kamu
mencintainya? Tidak. Kamu menyukainya? Entah, aku ragu.
Kami diam dalam bising kendaraan yang
kebetulan melintas. Aku sibuk dengan degup yang terus bergemuruh. Dan laki-laki
yang masih tetap aku cintai sampai dengan detik ini, yang saat ini sedang duduk
dihadapanku, bergelut dengan pikirannya sendiri. Pikiran yang tak mampu lagi
kubaca. Dari sorot matanya, kulihat luka yang baru saja menganga. Luka besar yang sangat menghancurkan hatinya. Luka yang
dibuat oleh diriku sendiri.
Betapa hanya dengan laki-laki yang baru
saja kutemui sebulan lalu, yang katanya baru saja terluka oleh perempuannya,
yang katanya lebih suka dengan perempuan jawa, yang katanya baru saja merantau
ke Jakarta, dan dengan katanya-katanya yang lain. Kenapa dengan hatiku?
***
“Bagaimana
dengan pacarmu?” Tanyanya
“Baik.
Dia sedang sibuk.”
“Mau
jalan nonton?” Ajaknya untuk yang kesekian kalinya.
“Tidak.
Pacarku akan menjemput.”
“Nanti
ku antar pulang.”
“Tidak.
Aku tidak ingin pergi tanpa sepengetahuan pacarku.”
“Baiklah.”
... “ Kamu sangat mencintai pacarmu?” Tanyanya untuk yang terakhir kali.
“Iya.”
Jawabku tanpa ragu, lalu pergi.
***
Bagaimana mungkin hanya dengan kesibukanmu
yang hanya sedemikian, mampu membuat pikiranku serendah ini? Padahal aku yakin,
cintamu tak dapat kuragukan lagi. Aku salah. Aku bodoh.
Aku membiarkan laki-laki yang berada
dihadapanku ini, bertengkar dengan dirinya sendiri. Aku tidak ingin semakin
memperkeruh keadaan yang sebenarnya sudah berantakan. Aku sendiripun hanya
berani menenggelamkan diriku sendiri dalam jurang sesal, memaksanya terjun agar
turut merasakan luka.
“Aku
cinta kamu. Aku sayang kamu. Aku ingin terus berjalan bersamamu. Tetapi, aku
butuh waktu.”
Ya. Aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi
selain memberimu waktu.
Karena apapun alasannya, sebuah kesalahan
yang nyaris disebut sebagai pengkhianatan, tidak akan dapat di tolerir. Sebesar
apapun cinta dan sayang yang sudah kita beri di hari-hari sebelumnya, tidak
dapat menebus maaf atas kesalahan tersebut. Hanya sesal yang pada akhirnya
menemanimu berjalan. Tergantung pada dirimu sendiri, tetap akan berdiam, atau
berjalan dan memperbaiki segalanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar