Pagi ini, aku terbangun dengan sedikit mengulet,
ketika sorot matahari masuk kedalam kamar melalui celah-celah lubang jendelaku.
Rasa keram di kaki masih terasa meskipun semalam sudah ku oles dengan obat
pereda sakit. Membuat anggota tubuh yang lain bermalas-malasan, diam. Rasanya
baru saja aku terlelap dalam bising pikiran-pikiran yang terus mengarah
kepadamu, pada malam yang tak lagi ramai.
Pagi ini, aku terbangun dengan rasa yang masih sama—Merindu. Merindu
padamu, pada waktu-waktu yang mungkin kadar masanya telah habis. Merindu pada
waktu yang mungkin saja tak lagi memihak padaku, padamu, pada kita. Merindu
pada waktu yang mungkin saja sedang enggan menjamah bahagiaku, bahagiamu,
bahagia kita. Merindu pada waktu yang mungkin saja sedang melipir karena luka
itu pasti. Ya, mungkin saja.
Pagi ini, aku terbangun dengan rasa (asing) yang masih sama—Gamang. Aku tak
lagi mengerti, kemana degup jantung yang berkerja lebih keras dari biasanya
tiap kali kamu berada tepat disampingku, tepat dipikiranku. Tak lagi kutemukan
semburat rona merah yang dulu muncul malu-malu tiap kau sedang merayu. Mungkin
iapun telah pergi, ia—rasa hangat yang
menyergap, lalu buatku sesak karena bahagia—tiap kali kutumpahkan segala
penat resah padamu.
Pagi ini, aku terbangun dengan rasa yang masih sama—Resah. Aku resah ketika
banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang ingin kutanyakan padamu. Pertanyaan
yang kuyakini akan enggan kamu jawab. Bisakah beriku sebuah rasa tenang sekali
lagi? Sebab, tak lagi kumengerti, bagaimana mungkin aku seperti tersesat
sendirian tiap kali mencoba memahamimu. Aku merasa terhempas, tiap kali mencoba
merangsek kembali kedalam hatimu. Bagaimana hatimu saat ini, sayang? Aku ingin
pulang, dihatimu.
Pagi ini, aku terbangun dengan harapan-harapan yang kian menjadi asa.
Bisakah aku mengulang segalanya, sekali lagi?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar