Sebelumnya, saat saya disodorkan dengan obrolan mengenai drama korea, saya
terang-terangan menyatakan bahwa saya tidak tertarik. Bahkan saya pernah
berdebat dengan teman dan membuatnya tersinggung, hanya karena saya tidak
menyukai sikapnya yang terlalu addict dengan yang berbau korea.
Satu minggu ini, saya sedang merasa lelah—jengah—dengan segala hiruk pikuk
angka yang setiap hari harus selalu saling sapa. Saya sudah mencoba
melampiaskan rasa jengah ini dengan chatting dengan obrolan-obrolan absurd bersama
seseorang yang cukup penting untuk saya, seseorang yang sudah mempunyai tempat
khusus dihati saya. Lalu, saya juga sudah mencoba membalikkan mood membaca
saya, dengan membaca novel yang sedang saya ingin baca. Tetapi, nyatanya rasa
bosan itu tak juga hilang.
Dulu sekali, saya pernah menyimpan sebuah folder drama korea di flashdisk.
Hanya satu, karena memang itupun tak sengaja tersimpan di dalam flashdisk milik
saya. Saya mengernyit saat awal-awal mencoba menontonnya. Seperti bukan hidup
di dunia saya. Saya bukan type orang yang suka menonton.
Cheese in the Trap. Drama korea yang menurut saya sangat klise. Seseorang
wanita biasa yang bernama Hong Seol, yang rambutnya seperti bulu anjing, yang
berasal dari keluarga biasa saja, yang terpaksa cuti semester karena tidak bisa
membayar kuliahnya, yang tinggal di apartmen jelek, yang harus berjuang untuk
mempertahankan nilainya agar tetap mendapatkan beasiswa. Pada akhirnya
berpacaran dengan Yoo Jung, laki-laki yang berasal dari keluarga kaya, anak
dari seorang pengusaha dari perusahaan besar, yang hanya dengan berkerja di
telpon saja, ia bisa mendapatkan apa saja yang ia mau.
Saya pikir, drama ini tidak akan menarik sama sekali. Tetapi karena saya
sedang bosan dengan aktifitas-aktifitas lainnya, jadilah drama ini menjadi
alternatif lain sebagai pelampiasan untuk menghabiskan hari-hari saya yang
membosankan.
Tebak apa yang bisa kalian ambil setelah menonton film ini? Saya banyak
mengambil pelajaran dalam film ini. Saya sangat suka cara Hong Seol menghadapi
segala masalah kehidupannya dan juga masalahnya dengan pasangannya—Yoo Jung.
Percaya. Ya, kita harus percaya dengan pasangan kita. Karena apapun yang
kita pikirkan baik, akan selalu menghasilkan hasil yang baik, begitu juga
sebaliknya. Sepertinya akan membuat hati menjadi tenang. Meski sebenarnya, saya
harus menerapkan hal itu untuk diri sendiri terlebih dahulu.
Lihatlah dari banyak sisi setiap ada masalah yang timbul. Sebab, seringkali
kesalahpahaman mampu menghancurkan segalanya. Bukankah setiap masalah, setiap
salah dan setiap kekeliruan harusnya membuat kita banyak belajar untuk
memperbaikinya?
Saling menguatkan. Penting sekali untuk saling menguatkan satu sama lain. Sebab
bukankah kita akan merasa ‘ada’ saat kita berhasil membuat oranglain mencari
kita? Ya, saya merasa 'ada' saat saya mampu membuat seseorang yang menurut saya
penting, tidak merasa sendiri tiap kali sedang di terjang masalah. Dan saya
juga merasa ‘ada’ saat seseorang yang saya butuhkan menjadi seseorang yang ‘ada’
untuk saya. Tak perlu raga bersama, cukup curahkan segala perhatian yang ada. Sebab,
itu sudah cukup.
Meski pada akhirnya, Hong Seol dan Yoo Jung memang tidak bisa bersama. Tetapi,
saya cukup berterimakasih atas kepercayaannya, kebaikannya, sifat positifnya,
pandangannya dan ketegarannya. Mungkin memang begitulah jalan cerita yang
dibuat untuk mereka. Sama seperti kehidupan yang sebenarnya, bahwa segala hal
yang terjadi dalam buku cerita hidup kita, sudah ada yang mengaturnya sedemikian rupa
hingga menjadi jalan cerita yang menarik. Berterimakasihlah pada Ia Sang Pembolak-balik hati manusia.
Mana tahu, seseorang yang paling kita sayang adalah musuh kita di masa
depan? Ataupun sebaliknya? Tugas kita adalah tetap menjadi manusia yang banyak
kebaikannya ketimbang keburukannya. Selamat belajar mempertahankan segala
kebaikan yang sudah kita perbuat. Dan, semangat menambah daftar kebaikan untuk
melunasi segala keburukan yang sudah kita lakukan. Berbahagialah menjadi orang
baik.
-Love
Ps : Maaf tak banyak bercerita tentang jalan cerita film Cheese in The Trap. Tentu saya juga berterimakasih untuk satu minggu yang penuh pelajaran.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar