“Aku ingin mengajakmu makan
malam.” Begitulah isi
pesanmu.
Aku membayangkan akan kamu bawa ketempat makan kesukaan kita. Dipinggir jalan,
samping klinik.
Selepas pukul lima sore, aku segera merapihkan berkas-berkas laporan,
mematikan komputer dan bergegas menyeret tas kerjaku yang pagi tadi kuletakkan
di samping meja kerjaku. Aku berjalan cepat menuju lift agar cepat sampai ke lantai bawah. Aku ingin cepat bertemu
kamu, untuk memupus rindu, yang sudah kutumpuk beberapa minggu.
”Kamu cantik hari ini,
sayang.”
“Aku sudah memesankan tempat untuk makan malam.”
Ya, kamu memang selalu tahu apa yang aku inginkan, sayang.
Perjalanan setengah jam terasa lama ketika kami melewatinya dengan diam. Tak
biasanya kamu seperti ini. Mengingat bahwa kamu adalah laki-laki terbawel
sepanjanng masa yang aku sayangi. Aku terus memeluknmu dari belakang, ketika
aku sendiripun tidak tahu ingin berbincang apa denganmu. Rasanya ingin terus
memelukmu. Terus. Dan, terus. Anggap saja, rinduku sudah menggunung, dan hanya
cara ini yang bisa kulakukan untuk membayar rasa rinduku.
Begitu sampai ditempat makan yang sudah dipesankan, kami segera memesan
makanan dan saling tatap.
“Sayang, aku ingin membicarakan
sesuatu padamu. Ini mengarah pada hubungan kita.”
Aku mengerut, ada apa ini sebenarnya. Kamu tiba-tiba mengajakku makan
malam, menjemputku, memesankan tempat untuk makan malam kami, bersikap tak
biasa selama perjalanan. Ada apa, sayang? Tolong jangan buat aku takut akan
hal-hal yang tak ingin ku jumpai sepanjang enam tahun bersamamu.
“Tiga minggu ini, aku rindu kamu.”
Aku juga rindu kamu, bodoh!
“Hari ini, aku ingin kamu tahu, sayangku ini semakin hari semakin besar untukmu.”
Aku tercekat, diam. Lalu, bagaimana denganku? Apa kamu pikir sayangku sudah
habis? Tidak, sayang. Rasaku juga sama besarnya denganmu. Bahkan mungkin lebih
besar darimu.
“Kamu satu-satunya perempuan tanpa ikatan darah yang sangat aku sayangi. Aku ingin menghabiskan sisa usiaku bersamamu. Enam tahun ini, adalah waktu yang sangat cukup untuk meyakinkan aku dalam mengambil keputusan untuk hidup bersamamu. Aku membawa ini, untukmu.”
Kerongkonganku benar-benar kering. Ada rasa yang baru saja aku rasakan saat
ini, ketika kamu meletakkan kotak merah diatas meja makan kami. Jantungku berdetak
liar tak karuan. Terlebih ketika mama dan kakak perempuanku tiba-tiba datang
dan berdiri disampingku.
“Sebelum bertemu kamu, aku sudah menemui keluargamu. Didepan mama dan kakak kamu, biarlah aku mengungkapkan semuanya. Aku ingin menjadi imam untukmu. Bagaimana dengan kamu?”
Tiba-tiba saja segala yang sudah kami lewati selama enam tahun ini, menari-nari indah. Kamu yang enam tahun lalu, mendekatiku. Kamu yang enam tahun lalu, mmengutarakan perasaanmu kepada sahabatku terlebih dulu. Kamu yang enam tahun lalu masih menjadi pertimbangan antara aku dengan sahabatku. Kamu yang enam tahun lalu kupilih sesaat setelah sahabatku mengatakan kamu ini laki-laki baik dan laki-laki yang tepat untukku.
Enam tahun yang penuh kejutan.
Enam tahun yang penuh harap atas kepastian dari hubungan ini.
Enam tahun yang penuh dengan rasa cinta.
“Aku akan menjadi makmum yang baik untukmu, sayang.”
Mama tersenyum dan meneteskan airmatanya, begitu melihatku meneteskan
airmata bahagia. Mungkin mama juga merasakan bagaimana bahagia yang tidak bisa
kugambarkan dengan kata-kata. Kakak perempuanku, memeluk mama. Aku yakin saat
itu kakakku juga merasakan bahagia yang sama besarnya.
Biarkan segalanya kuakhiri dengan kepastian.
Aku mencintaimu. Dan, akan selalu mencintaimu.
Semoga, kamu mencintaiku. Dan akan selalu mencintaiku.
***
P.s :
Happy Anniversary, sahabat kecilku.
Semoga segalanya selalu dilancarkanNya.
Semoga dia, yang paling tepat. Aamiin.
***
P.s :
Happy Anniversary, sahabat kecilku.
Semoga segalanya selalu dilancarkanNya.
Semoga dia, yang paling tepat. Aamiin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar