Judul Buku : Forever Monday
Pengarang : Ruth Priscilia
Angelina
Penerbit : PT Gramedia Pustaka
Utama
Diterbitkan, pertama kali :
Jakarta, 2014
Cetakan kedua : April 2017
Cover Design : Orkha Creative
Cover Design : Orkha Creative
Tebal : 320 Halaman, 20 cm
ISBN : 978-602-03-4621-2
Sinopsis :
Bagi Ingga, Senin adalah
segala-galanya. Dia takkan mau menukar Senin miliknya untuk apa pun. Karena
hanya pada hari itu dia bisa menjadi pacar Eras, playboy berhati dingin yang mengasuh dia dan adiknya setelah
ayahnya mereka meninggal beberapa tahun lalu.
Kemudian Kale datang ke hidupnya.
Pemuda nekat itu memperkenalkan hari-hari lain kepadanya, mengajarinya cara
bersenang-senang dan menyayangi diri sendiri. Tidak seperti Eras, Kale yang
hangat membuat hatinya jungkir balik, memorakporandakan dunianya dengan semua
bentuk kasih sayang yang aneh.
Namun, apakah itu semua cukup
bagi Ingga untuk melepaskan Eras dan Senin miliknya? Akankah cinta buta membuat
Ingga bertahan meski Eras memiliki banyak rahasia yang mampu menghancurkan
gadis itu dan semua orang yang disayanginya?
Dunia punya begitu banyak
suara indah.
Saya suka suara ibu,
bisingnya orang lalu lalang, gesekan pulpen diatas kertas dan suara sahabat
yang berseru heboh saat bermain playstation dengan saya.
Tapi, ada satu suara yang
paling saya suka. Suara detak jantung kamu.
−Eras Uparengga
Forever Monday mengenalkan sosok Eras, Ingga, Kale dan Rara. Eras yang dingin karena masa kecilnya yang sangat
menyakitkan. Ingga yang resah akan hidup dan rasa cintanya. Kale yang kehilangan
akal menunggu cintanya terbalas. Dan, Rara yang putus asa karena ayahnya.
Masing-masing memiliki masa lalu yang akhirnya menjadi pribadi keras yang saling membutuhkan satu sama lain .
Ingga dan Rara adalah boneka-boneka hidup. Cantik dan mati.
Eras dan
Kale adalah tokoh sempurna yang membuat pembaca—seperti saya, ingin memilikinya. Mereka berdua adalah simbol
kekayaan, ketampanan, dan kesombongan. Mereka punya segalanya. Keduanya adalah
playboy berumur dua puluh enam tahun yang saling membenci satu sama lain karena
kesalahpahaman di masa silam.
“Aku mau semua cinta kamu. Tunggu
ya. Aku buktiin pelan-pelan. Jangan ke Eras dulu. Dia nggak akan jaga kamu
sebaik aku jaga kamu.” –Kale, hlm 189.
Bagian
terbaik yang membuat saya ikut senyum-senyum sendiri adalah ketika Ingga dan
Kale di Beijing. Memiliki laki-laki seperti Kale, siapa sih yang tidak mau?
Kale yang romantis. Kale yang lembut. Kale yang penuh kejutan. Kale yang gila.
Kale yang lemah saat perempuannya terluka. Kale yang sempurna. Hanya saja,
Ingga terlalu mencintai Eras. Cintanya tak berubah sedikitpun meski cintanya
pada Kale mulai tumbuh.
Forever Monday, membuat saya belajar tentang arti sabar dalam mencinta.
Setia pada pilihan. Sayang selagi utuh. Menerima masalalu dengan maaf. Dan kuat
untuk melalui hidup. Penulis berhasil mengaduk-aduk emosi saya. Ada dimana saya
ingin menjadi perempuan seperti Ingga, tetapi tidak ingin menjalani hidup
seperti Ingga. Ada dimana saya ingin memiliki rasa sayang sebesar Rara
menyayangi Ayahnya, tetapi tidak ingin memiliki Ayah seperti Ayahnya. Ada
dimana saya ingin memiliki Eras dan Kale, tetapi tidak ingin berada
ditengah-tengah mereka.
Saya
menyukai cara penulis mengakhiri cerita rumit ini, meski tempo cepatnya tidak memudahkan
saya menerka akhir ceritanya. Keterpautan tokoh yang satu dengan yang lainnya,
membuat saya gregetan. Penulis juga
berhasil menyampaikan rasa sayang semua tokoh didalamnya meski dengan dialog
kasar penuh kebencian sekalipun. Dan,
Kale adalah yang terfavorit.
Beberapa quotes yang saya favoritkan :
Percayalah, tinggal dengan orang yang nggak pernah peduli
sama lo rasanya lebih buruk dibandingkan tinggal sendirian. (Hlm 73)
Cinta dan kasih sayang itu hanya dua hal fantasi yang tak
pernah memberikannya kenangan manis. Di ingatannya, cinta dan kasih sayang itu
Cuma sebelah tangan. Tak ada yang menyayangi dan mencintainya balik. (Hlm
137)
Ia jatuh cinta pada sesuatu yang sarat harapan. Karena ia
datang membawa sebuah harapan. (Hlm 228)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar