Jumat, 13 Januari 2017

Pria dan Puan



Secangkir kopi yang dipesan dari dua jam lalu, sudah dingin. Tapi belum terdengar sepatah katapun yang keluar, baik dari bibir Puan yang mempesona karena polesan lipstick red rosenya ataupun dari bibir Pria yang kehitaman karena rokok.

Pria menatap tajam mata Puan—wanita yang ia pacari nyaris dua tahun ini. Bagaimana mungkin, cintanya yang besar, dibalas dengan kesakitan yang sebegininya. Pria melihat sendiri, Puan sedang membuat jadwal kencan dengan laki-laki lain dalam pesan whatsappnya. Mungkin saja ini bukan yang pertama. Dua kali? Tiga kali? Berapa kali?

Jantungnya berdegup kencang, emosinya terpacu.

Pria merasa segalanya sia-sia. Kerjanya pagi-siang-malam—demi menikahi Puan, terasa tak berguna.

Puanpun menatap tajam mata Pria. Puan tidak ingin disalahkan. Biar bagaimanapun, wanita memang butuh perhatian. Hal yang tidak Puan dapatkan dari Prianya. Puan merasa tidak memiliki Pria seutuhnya.

"Laki-laki yang baik, tidak akan membuat perempuannya gelisah tanpa kabar, tanpa perhatian. Sesibuk apapun dia. Sebab laki-laki yang menyisakan sedikit waktu dari jam-jam sibuknya adalah laki-laki yang benar-benar mencintai perempuannya dengan penuh kasih sayang." Kata Puan.

"Perempuan yang baik, tidak akan mengemis perhatian dari seseorang yang bukan laki-lakinya. Sebab perempuan yang setia menunggu laki-lakinya, adalah perempuan yang benar-benar menjaga rumahnya untuk laki-lakinya yang pasti kembali pulang." Saut Pria.

Mereka menyadari kesalahan demi kesalahan masing-masing.

"Aku sayang kamu." Ucap Pria dan Puan bersamaan.

Pria menggenggam jemari Puan yang terasa dingin. Puan memeluk mata Pria dengan matanya yang basah.

Pria tersenyum. Begitupun Puan.


_____________________________________________________________________________
P.s:
*Pictured by @naelaali.
**Diikutkan momen 30 Hari Bercerita,
***@30haribercerita #30HariBercerita #30HBC1712


Tidak ada komentar:

Posting Komentar