Rabu, 21 Februari 2018

Review Film : DILAN 1990


Judul : Dilan 1990
Genre/Jenis Film: Drama
Sutradara Film: Fajar Bustomi, Pidi Baiq
Rumah Produksi Film: MAX Pictures
Penulis Naskah skenario/Novel Film: Pidi Baiq, Titien Wattimena
Produser Film: Ody Mulya Hidayat
Tanggal Rilis/Tayang Film: 25 Januari 2018 (Indonesia)
Negara asal Film: Indonesia
Bahasa Film: Indonesia
Pemain : Iqbaal Ramadhan (Dilan) Vanesha Prescilla (Milea)

Bolehkah aku punya pendapat?
Ini tentang dia yang ada di bumi
Ketika Tuhan menciptakan dirinya
Kukira Dia ada maksud mau pamer

Setelah memangkas segala kemalasan mengetik karena pusing dengan urusan kuliah yang ngga selesai-selesai dan urusan lain yang mendesak, akhirnya hari ini memaksakan diri untuk membuka word. Sebenarnya, telat banget sih kalau baru ngereview film yang ajegile ini, hari gini. Euforia tuh’ film juga udah mulai habis. Tapi sebagai pembaca novel Dilan dari dua tahun lalu dan antusias banget sama film ini dari tahun lalu, rasanya wajib banget kasih sedikit corat-coret tentang film ini.

Sebelum dijadikan Film, aku sudah tergila-gila dengan Dilan dalam Novel yang berjudul sama—Dilan: Dia adalah Dilanku tahun 1990. Jatuh cinta dengan segala tingkah gilanya yang out of the box. Caranya pedekate dengan Milea, bisa ditiru anak jaman sekarang nih. Ngga lebay, tapi langsung kena di hati. Mulai dari yang datang kerumah Milea sebagai utusan kantin, kasih hadiah ulangtahun tts yang sudah diisi, kirim cokelat lewat tukang Koran, kirim tukang urut saat Milea sakit.

Awalnya sempat dilema ngga mau nonton karena takut imajinasi karakter DIlan di Novel buyar karena Iqbal termasuk dedek gemes yang jauh dari karakter seorang Dilan. Dan juga karakter Milea yang takut gagal diperankan oleh Vanesha karena film ini merupakan debut pertamanya di dunia acting. But, finally success! Gilak! Iqbal bertransformasi menjadi sosok Dilan yang GILAK banget. Tatapannya cocok sebagai panglima tempur yang disegani oleh teman-teman segenknya. Pun tatapannya yang berbeda ketika menatap Milea juga berhasil diciptakan oleh seorang Iqbal.

Katakan sekarang
Kalau kue kau anggap apa dirimu?
Roti cokelat? Roti keju?
Martabak? Kroket? Bakwan?
Ayolah!
Aku ingin memesannya
Untuk malam ini
Aku mau kamu

Tatapan Dilan ke Milea disepanjang film tuh maknyus banget, rasanya pengen banget jadi Mileanya, lalu dilemparin popcorn sama para fans nya Iqbal sambil bilang “Ngga cocok lu!” Kata-kata Dilan yang random tapi ngebekas, buat aku berharap bisa ketemu partner hidup yang kayak gitu, walaupun nyatanya Dilanku tak seperti itu, hahaha.

Adegan telpon-telponan, buat aku bersyukur banget. Karena sekarang kalau kangen pacar ngga perlu nunggu ditelpon si pacar sambil galau-galau. Tinggal ngechat atau telpon langsung pakai ponsel yang bisa telpon pakai paket internetan.

Adegan terfavorit ketika DIlan berantem dengan Anhar, karena Anhar kelepasan menampar Milea ketika Anhar menggoda Milea. Rasanya sayang Dilan ke Milea tuh besar banget. Sangat membuktikan dialog Dilan yang “Jangan pernah bilang ke aku ada yang menyakitimu, Milea. Nanti, besoknya, orang itu akan hilang!” AAAAAAH GILAAAAAK!!!

Dialognya yang sederhana, menjadikan film Dilan ini sangat ringan di tonton untuk sekedar melepas penat. Daaaan, mungkin karena terlalu ringan eh atau karena aku terlalu penat ya? aku sampai dua kali untuk menonton film Dilan ini. Pertama sama teman-teman—dan ada adegan dimana tanganku biru-biru ketika keluar bioskop karena dicubitin temen sebelahku yang gemes sama Dilan, kedua sama pacar yang tiba-tiba banget ngajak nonton karena sekalian ngerayu gara-gara semingguan di betein. Padahal si pacar ngga hobby nonton film yang genre begini. Terbukti sepanjang film di putar, setiap aku senyum-senyum sendiri, si pacar selalu bisikin aku “Ah filmnya lebay!” Kayaknya ini juga karena ditambah si pacar yang kalah pamor sama Dilan deh, jadi si pacar iri, hahaha.

Kekurangan film ini adalah, settingan make up dan rambut yang kurang pas untuk tahun 90an. Karena make up dan gaya rambut para pemainnya, film ini justru seperti ftv jaman sekarang. Dan musiknya juga. Awalnya aku berharap film ini akan diiringi oleh musik yang terkenal pada tahun 90an. Kan banyak tuh ya musik 90an yang nge-jleb.

Secara keseluruhan, film ini bagus banget. Recommended!

2 komentar:

  1. Better novelnya atau filmnya kak? Soalnya gue blm sama sekali baca novelnya nih, baru ntn filmnya aja.,
    -Dilan1995

    BalasHapus
    Balasan
    1. Secara dialog better novel. kita bisa ngebayangin sendiri. tapi filmnya juga ga melenceng jauh. bahkan yg paling bikin filmnya bagus adalah Iqbal yg sukses banget pakai dialog-dialog super canggih itu.

      Hapus