Selasa, 17 Maret 2020

Review Buku : Grey Sunflower


Judul Buku : Grey Sunflower
Pengarang : Ruth Priscilia Angelina
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Diterbitkan, pertama kali : Jakarta, September 2010
Cover Design & Ilustrasi : Yustisea Satyalim
Tebal : 248 Halaman, 20 cm
ISBN : 978-979-22-6087-8

Sinopsis :

Louise, si gadis pencinta bunga matahari, memutuskan melarikan diri ke Belanda untuk membuka lembaran baru setelah kematian cinta pertamanya, Davin. Di sana ia berniat melanjutkan kuliah dan melupakan segala hal yang berhubungan dengan cinta. Tetapi, takdir malah mempertemukannya dengan Ben, saudara kembar Davin. Perasaan Louise campur aduk, kenangan akan Davin menariknya kepada Ben.

Namun, seakan hidup Louise belum cukup membingungkan, takdir malah memperumitnya dengan menghadirkan kembali Gerard, pria yang juga pernah mengisi hidupnya dan telah beberapa tahun menghilang.

Dibayangi kenangan dan balutan kebimbangan, bisakah Louise menemukan Bunga Matahari-nya yang sejati?

"Kamu meminta terlalu banyak dan aku tidak bisa memenuhinya.
Aku sudah berusaha tapi aku tetap tidak mampu melawan takdir."
Page of 73

Kalau saja ada pembaca lain yang berpikir dan bertanya, kok ada ya kakak-beradik—tiga-tiganya, punya penyakit yang sama parahnya? Jawabannya, ya memang ada. Cerita tentang Davin, Ben dan Gerard, hampir serupa dengan kisah nyata dari keluarga Lorelei Go, dimana ketiga anak laki-lakinya—Rowden, Hasset dan Hisham, meninggal dengan penyakit yang sama; Kanker Hati.

Sebenarnya novel ini punya banyak bumbu bawang yang bikin mata banjir. Mulai dari Davin, yang ternyata juga mencintai Louise dari SD, tetapi sengaja ia pendam karena tidak ingin membuat Louise terluka ketika mendapati dirinya memiliki penyakit kanker otak. Lalu Gerard, yang ternyata sudah mengenal dan mencintai Louise, jauh sebelum pertemuan mereka ketika telah sama-sama dewasa. Kemudian Ben, yang pada akhirnya harus  merelakan Louise pergi bersama lelaki pilihannya.

Cinta ketiga bersaudara ini, sungguh membuat iri. Tulus dan ikhlas. Siapa perempuan yang tidak ingin mendapatkan cinta sebesar cinta yang didapatkan Louise dari Davin, Ben dan Gerard? Hanya saja, aku disini merasa karakter Louise sama sekali tidak kuat. Louise terlihat labil. Ketika dia sudah mulai menyukai Gerard dan bertemu lagi dengan Davin yang keadaannya sakit, aku masih bisa memaklumi kalau saja Louise lebih memilih Davin. Cintanya kepada Davin tentu tidak bisa hilang begitu saja. Tetapi saat kejadian itu berulang pada Ben dan Gerard, aku merasa Louise sangat tidak punya pendirian. Bukan tipe perempuan yang akan kunilai hebat.

Meski fiksi, banyak sekali hal yang membuat aku bertanya-tanya sendiri, kebaikan apa ya yang dilakukan Louise pada kehidupan sebelumnya, sehingga ia seberuntung ini? Dicintai oleh ketiga laki-laki dengan amat tulus. Sesempit itu kah dunia, sampai-sampai ketiga kakak-beradik ini tidak menemukan wanita lain, selain Louise? Terlalu banyak kebetulan, dan aku tipe pembaca yang tidak suka itu. Mungkin, ini hanya soal selera.

Harusnya cerita ini bisa dibuat lebih panjang, karena jalan cerita yang hanya seperti ini, sungguh membuat lelah. Terlalu cepat berpindah cerita. Dari Louise lulus smk, berpisah dengan Davin, masuk ke tempat les, bertemu Gerard, kembali pada Davin, kehilangan Davin, pindah ke Belanda, bertemu Ben dan segudang konfliknya. 

Aku jatuh cinta dengan karakter Gerard. Juga bahagia, karena happy ending.

*Terdapat typo pada halaman 243, menurutku harusnya yang tertulis adalah nama Gerard, tetapi jadi Davin, “ketika Davin, membuka cadarku dan mencium bibirku hari itu sebagai istrinya.”

­*Aku baca novel untuk yang cover putih, tapi kayaknya yang cover kuning lebih lucu dan bagus.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar