Judul Buku : A Beautiful Mess
Pengarang : Rosi L Simamora
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Ilustrasi Sampul : Martin Dima
Ilustrasi isi : Oky Andrianto
Diterbitkan, pertama kali : Februari 2015
Cetakan kedua : Januari 2018
Tebal : 336 Halaman, 20 cm
ISBN : 978-602-03-1387-0
Sinopsis :
Sebuah rahasia kelam memaksa Freya, gadis manja dan “high maintenance”, meminta bantuan ayahnya, lalu dengan terpaksa menerima nasib menyingkir ke pulau terpencil.
Di sana ia harus bekerja, sesuatu yang tidak pernah dilakukan Freya seumur hidupnya. Dan siapa lagi yang mengawasi Freya kalau bukan Lian, pria tampan yang sepertinya membenci Freya sejak awal?
Namun Lian juga menyimpan rahasia. Dan diam-diam, ia menyadari sesuatu telah tumbuh. Cintakah? Tidak. Tidak. Jangan cinta!
Dan benarkah Freya telah berhasil meninggalkan masa lalunya? Ataukah… hantu masa lalu yang kelam namun teramat memikat itu akhirnya mengejar Freya hingga ke ujung dunia, dan ia selamanya takkan pernah lepas darinya? Takluk kembali pada satu-satunya laki-laki yang membuatnya begitu hidup, dan sekaligus mati?
Kisah ini bercerita tentang cinta. Dan nafsu. Tentang jatuh. Dan bangkit. Tentang luka dan rasa takut. Dan bagaimana menaklukkannya.
Aku
tidak ingin jadi api yang menjadikanmu abu,
dan aku tidak ingin apimu menjadikanku abu.
Page
of 320
Ini
masa hukuman, pikiran dilarang piknik ke padang kemesuman dan
aku menolak
dijerumuskan ke lubang kesengsaraan yang lebih dalam.
Page
of 15
Untuk sekelas novel yang dilabeli “Novel Dewasa”, penulis lumayan apik dalam menambahi bumbu sex dan adegan ranjangnya. Meskipun cukup liar dan menggebu-gebu, tetapi tidak berlebihan. Namun sayangnya, karakter Freya justru merusak kestabilan itu. Dengan dia yang seringkali berdebat dengan suara ego dan suara libidonya sendiri, membuatku risih. Penilaian-penilaiannya terhadap laki-laki, yang dinilai dari sudut pandang sex membuatku tidak nyaman. Freya ini, mulanya seperti wanita jalang. Isi kepalanya dipenuhi oleh birahi.
Terlebih, dengan cara Mba Rosi yang secara terus menerus, mengulangi perdebatan Freya dengan suara libidonya. Aku jengah.
Mengangkat kisah romance antara Freya yang manja, egois dan annoying, dengan Lian, yang dingin, jutek dan menyimpan perasaan benci juga cinta terhadap Freya, membuatku berharap banyak pada ending buku ini. Apakah seorang Lian yang dingin dan jutek, mampu merubah karakter Freya? Terlebih membuat Freya bisa menyelesaikan tugas yang Ayahnya berikan.
Mengambil sudut pandang pertama dari dua tokoh utama, rasanya Lian seperti tidak memiliki cukup porsi yang seimbang dengan Freya. Lian terkesan hanya sebagai tokoh tambahan dan sisa keseluruhannya menceritakan tentang Freya dengan dunianya; manjanya, egoisnya, kebencian dan kekecewaan pada ayahnya, kebencian pada Mahar, dll.
Betapa
mengerikan hantu-hantu yang dapat diciptakan dari kekecewaan kekecewaan.
Page
of 127
Salut
untuk penyelesaian yang apik untuk hubungan Ayah dan anak yang tidak baik.
Memang terkadang pikiran anak dan orangtua seringkali berbeda. Apalagi ditambah dengan gengsi, ego dan komunikasi yang tidak baik. Semakin sempurnalah kebobrokan hubungan Ayah dan anak ini.
Dari sekian banyak hal yang membuatku jengah, untungnya terselamatkan dengan setting yang penulis ambil. Mengambil tempat Pulau terpencil di bagian paling Timur Indonesia, membuat aku merasakan liburan meski dalam imajinasi. Meskipun nama tempatnya tidak disebutkan, namun deskripsinya cukup untuk bisa menebak kalau tempat yang dimaksud adalah Papua.
Penjelasan tentang adat dan budaya kekerabatan suku Batak yang cukup kental, membuat buku ini jauh lebih baik dan membuatku tertarik untuk segera menyelesaikan 336 halaman. Tentang kehidupan penduduk yang tinggal di sekitar resort, tentang masih banyaknya masyarakat yang menggantungkan hidupnya dengan membuat patung dan membuat hasil seni yang lain. Dan, tentang penjelasan-penjelasan mengenai sepersepupuan suku Batak.
Seringkali
kita sendirilah yang menjadi batu sandungan diri kita.
Page
of 252
Novel ini menyelipkan moral value yang kental, khususnya untuk perempuan. Betapa perempuan itu harus pintar, tangguh, bisa mengambil keputusan dalam hidupnya, berani menghadapi resiko yang akan terjadi. Sebagai perempuan generasi milenial, cukup banyak bisa mengambil contoh dari karakter Freya saat sudah berubah menjadi lebih baik di bab bab akhir.
Freya akhirnya menyadari bahwa musuh terbesar didalam hidupnya adalah dirinya sendiri yang terlalu pengecut dalam mengambil semua keputusan-keputusan untuk kehidupannya, terutama keputusan untuk meninggalkan mantan kekasihnya yang super posesif dan toxic.
Pendapat
yang paling penting dan benar bila menyangkut diri sendiri adalah diri itu
sendiri. Titik. Tidak ada pendapat lain yang lebih benar dari itu. Tidak pendapat
sahabatnya, kakaknya, bahkan pendapat dunia ini. Bahwa jika ia percaya pada
diri sendiri, maka seluruh dunia akan percaya padanya. Jika ia menganggap
dirinya berharga, maka persetan dengan seluruh dunia yang menganggap
sebaliknya.
Page
of 232
Dan
kekecewaan, seperti hal-hal kelam dan gelap lainnya. Selalu dapat menemukan
celah darimana ia bisa menyelinap keluar dan menunjukkan jati dirinya. Untuk
kemudian menggerogoti, merusak, menghancurkan. Jika kita tidak berhati-hati dan
segera membasminya atau menyianginya dengan cinta yang sabar dan kuat. Hari
lepas hari. Bertahun tahun. Bahkan seumur hidup.
Page
of 127 – 128

Tidak ada komentar:
Posting Komentar