Selasa, 22 November 2016

Usai

Kamu pernah beri bahagia,
bahkan saling membahagiakan.
Kamu pernah beri kehangatan,
bahkan saling menghangatkan.
Kamu pernah beri cinta,
bahkan saling mencintai.
Kamu pernah menjadi satu,
saling memiliki.
Namun, yang harus kau ingat.
Semua sudah berakhir. Selesai.

Tidak bisakah kau bahagiakan dirimu sendiri?
Tidak bisakah kau hangatkan dirimu sendiri?
Tidak bisakah kau dapatkan cinta yang lain?

Seseorang yang dulu membahagiakanmu,
kini sedang membahagiakanku.
Seseorang yang dulu menghangatkanmu,
kini sedang menghangatkanku.
Seseorang yang dulu berimu cinta,
kini sedang mencintaiku.

Ingat. Bersamamu sudah usai.
Tidak perlu mencari-cari lagi.
Caramu merangsek,
seperti sudah tak punya malu.



Jakarta, 19 November 2016.

Minggu, 06 November 2016

Enam Tahun, bersamamu

Sabtu ini, masih sama dengan sabtu-sabtu sebelumnya. Masih harus mengerjakan urusan kantor, yang semakin lama semakin membuat aku rindu untuk segera pulang. Pesanmu siang tadi, menambah rinduku. Bertemu cinta yang nyaris enam tahun ini kupupuk setiap hari. Bertemu, kamu.

“Aku ingin mengajakmu makan malam.” Begitulah isi pesanmu.
Aku membayangkan akan kamu bawa ketempat makan kesukaan kita. Dipinggir jalan, samping klinik.

Selepas pukul lima sore, aku segera merapihkan berkas-berkas laporan, mematikan komputer dan bergegas menyeret tas kerjaku yang pagi tadi kuletakkan di samping meja kerjaku. Aku berjalan cepat menuju lift agar cepat sampai ke lantai bawah. Aku ingin cepat bertemu kamu, untuk memupus rindu, yang sudah kutumpuk beberapa minggu.

”Kamu cantik hari ini, sayang.”
Kontan kata-katamu membuat aku tak berhenti tersenyum. Bahagia itu semudah ini, ya?