Selasa, 27 September 2016

Maafkan aku, Sayang

Sejak kapan? Dua minggu. Kamu mencintainya? Tidak. Kamu menyukainya? Entah, aku ragu.

Kami diam dalam bising kendaraan yang kebetulan melintas. Aku sibuk dengan degup yang terus bergemuruh. Dan laki-laki yang masih tetap aku cintai sampai dengan detik ini, yang saat ini sedang duduk dihadapanku, bergelut dengan pikirannya sendiri. Pikiran yang tak mampu lagi kubaca. Dari sorot matanya, kulihat luka yang baru saja menganga. Luka besar yang sangat menghancurkan hatinya. Luka yang dibuat oleh diriku sendiri.

Betapa hanya dengan laki-laki yang baru saja kutemui sebulan lalu, yang katanya baru saja terluka oleh perempuannya, yang katanya lebih suka dengan perempuan jawa, yang katanya baru saja merantau ke Jakarta, dan dengan katanya-katanya yang lain. Kenapa dengan hatiku?

Minggu, 03 Juli 2016

Berbahagialah, Sayang


Teruntuk kamu..

Selepas kamu pergi dengan diam, aku menyadari ada sesuatu yang telah terjadi. Sesuatu yang salah.

Maafkan aku kalau sampai detik ini aku masih saja harus banyak belajar memahami. Memahami bahwa untuk membuatmu bahagia harus dengan tegas membunuh egoisku. Memahami bahwa untuk tidak mengecewakanmu harus dengan tegas memupus keputusanku.

Tetapi, apa aku salah mengungkapkan apa-apa yang sungguh berada dihatiku? Apa aku harus berbasa-basi untuk membohongimu? Berpura-pura menyukai sesuatu hal hanya untuk membuatmu tersenyum?

Sungguhkah kamu butuh kebohongan-kebohongan kecil seperti itu?

Sayaaaang, aku hanya ingin kamu mengerti. Bahwa ada banyak kepura-puraan yang terjadi diluar sana. Dan aku, tidak ingin menjadi bagian segala hal diluar sana. Aku ingin kamu bahagia dengan sebegininya aku. Dengan kebodohan-kebodohan yang kadang menyakitimu. Dengan senyuman yang kadang memudar saat marah padamu.

Sayang, berbahagialah denganku bersama kedunguanku yang tidak mudah memahamimu.