Dear, lelakiku yang hebat..
Bagaimana kabarmu disana? Baik-baik sajakah? Bagaimana lukamu atas perpisahan kita? Apakah sudah mengering? Apakah kamu sudah dapatkan kehangatan yang sejati?
Sebenarnya, aku tidak ingin bertegur sapa lagi padamu, lewat surat sekalipun. Tapi rasanya, semenjak Januari terlewat begitu saja, aku jadi sering tak karuan. Aku sering tiba-tiba jatuh pada kenangan kita. Aku sering tiba-tiba terpejam, lalu menangis. Tak jarang pula, aku tiba-tiba menyebut namamu. Dan saat itu tiba, aku seperti ingin berlari kerumahmu. Menemuimu dan tenggelam dalam rengkuhanmu.
Aku masih menjadi wanita cengeng. Masih sama seperti saat kamu pergi. Masih sering salah paham pada Ayah. Masih sering membangkang pada Mama. Masih sering mengabaikan kedua adikku. Maafkan aku yang tak menjaga pesanmu.
"Mama sama Ayah itu orang baik, mbak. Jangan nakal ya, mbak. Karena mbak harus jadi contoh yang baik untuk adik-adiknya mbak." Ucapmu begitu ringan, dengan permen yang masih kau simpan dalam mulutmu.
Saat itu, aku menjanjikan padamu, bahwa aku tidak akan nakal. Tidak akan membangkang. Dan tidak akan berselisih paham. Tetapi, sulit ku laksanakan. Rasanya perubahan diriku yang semakin hari semakin menua ini, lebih banyak condong ke arah negatifnya. Tidak ada lagi pecut untuk mengingatkanku jika aku salah.
Kamu laki-laki terhebat pertama yang pernah aku kenal. Bahkan Ayahku kalah hebat. Kita dibesarkan dalam keluarga yang sama. Tetapi, kamu tumbuh menjadi anak yang jauh lebih berbakti. Bahkan Ayah dan Mama begitu menyayangimu, melebihi sayangnya padaku.
"Mama dan Ayah menyayangi kita berdua, mbak. Mbak nggak boleh sedih."
Aku ingat sekali. Kamu adalah orang pertama yang menenangkan aku, saat aku menangis karena menahan sakit di banding-bandingkan. Meski kamu adalah penyebabnya.
Aku tak lagi dapatkan laki-laki sepertimu. Tak ada lagi yang benar-benar bisa menjagaku. Tak ada lagi yang benar-benar bisa menghapus airmataku. Dan tak ada lagi yang benar-benar bisa membuatku tersenyum setelah menangis. Aku menyesali keputusan Ayah untuk pindah rumah, saat itu. Meski setiap liburan, aku menjengukmu dirumah Mbah Putri.
Tahun-tahun terlewati. Kamu terus tumbuh menjadi laki-laki yang lebih baik. Lebih bertanggung jawab. Lebih dewasa. Dan lebih menyayangi aku dan keluarga. Kami pun sangat menyayangi kamu. Iya, kamu pantas mendapatkan sayang itu. Pantas mendapatkan kebahagiaan. Sebab kamu adalah orang yang baik. Mama, Ayah, Mamamu, Mbah Putri, Mbah Kakung, semua menyayangi kamu. Juga Allah. Sehingga kamu lebih cepat di jemputNya, ketimbang aku.
Saat kejadian itu terjadi, Duniaku runtuh. Aku jadi wanita yang lebih sering menangis ketimbang tersenyum. Aku jadi wanita yang penyendiri.
Bertahun-tahun ku lewati malam pergantian tahun dengan doa yang paling baik untukmu. Tanggal 1 Januari kemarin, kamu genap berusia 23 tahun yaa. Aku turut berbahagia untukmu. Dan kamu, teruslah berbahagia disana.
Suatu hari nanti, saat aku sudah menjadi orang baik, dan Allah menjemputku. Aku ingin kamu menjadi satu-satunya lelaki yang menjemputku diambang pagar rumahmu. Aku ingin kamu menjadi satu-satunya lelaki yang menyambutku dengan makanan dan minuman paling enak dirumahmu.
Aku merindukanmu. Sungguh.
Teruntukmu, Adikku di syurga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar