Jumat, 27 Februari 2015

Dear, Peri Langit..

Saat aku menulis surat ini, aku dengan sengaja memutar lagu miley cyrus--I thought I lost you. Tidak tahu kenapa jadi keingetan kamu.

Nobody listens to me
Don't hear a single thing I've said
Say anything to soothe me
Anything to get you from my head
Don't know how I really feel
The faith it takes to make like I don't care
Don't know how much it hurts
To turn around like you were never there
Like somehow you could be replaced
And I could walk away from the promises we made
And swore we'd never break
I thought I lost you when you ran away to try to find me
I thought I’d never your sweet face again.
I turned around and you were gone and on and on the days went
but I kept the moments that we were in
'Cause I hoped in my heart, that you would come back to me my friend
And now I got you, but I thought I lost you!


Aku seperti anak kecil yang kehilangan boneka kesayangannya setelah kamu mengatakan bahwa kamu sengaja menghapus kontak bbmku, lalu setelah itu left group di whatsapp. Sedih, sudah pasti. Marah, juga iya. Tapi, bukankah kamu paling tidak suka kalau aku menentang keinginanmu? Iya kan? Maka aku hanya menyimpan semua perasaanku yang campur aduk itu dalam bisuku. Bukankah itu akan jauh lebih baik?

Bagaimana kesehatanmu? Bukankah seharusnya kamu sudah tidak membutuhkan obat-obat laknat itu? Obat yang pada akhirnya membuatmu ketergantungan. Bolehkah ku bakar butir-butir berwarna pelangi yang menyakitkanmu itu? Aku ingin melihatmu baik-baik saja. Seperti dulu. Agar tetap bisa menemaniku datang di seminar-seminar yang dulu kita sebut sebagai dunia kedua. Agar tetap bisa menemaniku mengais tumpukan novel-novel murah di acara bazar. Agar tetap bisa menemaniku dengan obrolan yang ngalor-ngidul.

Bagaimana hatimu? Masihkah layu? Hihi. Masihkah kamu menggerutu setiap kali kamu berpapasan dengan mobil berwarna putih? Atau masihkah kamu panas dingin setiap kali mendengar seseorang menyebutkan sebuah nama yang hidup pada masalalumu? Ah aku merindukan wajahmu yang bersemu merah setiap aku menyinggung setitik kenangan lamamu. Katamu, kamu ingin melupakannya, tetapi kamu tidak pernah bisa benar-benar marah padaku. Kamu hanya tak segan mencubit lenganku sampai membiru. Aku rindu guyonan kita di angkot merah yang membawa kita pulang dari kampus.

Seminggu lagi, harusnya kita kembali pada aktifitas-aktifitas yang katamu menjemukan, seperti bolak-balik rumah-kantor-kampus-rumah-kantor-kampus. Harusnya kita kembali berkutat pada angka-angka yang terkadang membuat perut kita tiba-tiba mual. Harusnya kita kembali bermalam di atrium kampus untuk mengerjakan tugas online dari dosen-dosen imut. Harusnya kita kembali pada semua hal-hal yang beberapa bulan lalu membuat kita tak berhenti tertawa.

Hei, peri langit yang suka warna biru, aku sudah mulai rajin menulis sekarang. Meski tulisanku hanya berputar pada kamu, dia dan mereka. Memang tak sehebat khayalan kita, sih. Tapi setidaknya, aku sedang mulai belajar. Sayangnya, aku terpaksa mengubur khayalan kita--terbitin novel duet berdua--sementara waktu, karena larangan dari doktermu yang menyebalkan itu. Ah rasanya aku ingin mengajak doktermu berkencan, lalu ku hipnotis, agar ia lupa telah membuat larangan untukmu.

Lagu miley cyrus sudah dua kali terputar sejak aku mengawali surat aneh ini. Surat yang mungkin saja akan kau abaikan karena enggan membacanya. Tetapi, aku tak peduli. Bukankah kita telah berjanji, kita akan tetap menjadi sahabat apapun yang terjadi? And I swore I'd never break a promise we made.

Aku tak peduli atas pengabaianmu akhir-akhir ini, yang aku tahu, sahabat tak boleh banyak menuntut. Bukankah pergi dan datang adalah hukum alam? Aku percaya, besok atau lusa, kamu akan berlari kerumahku, memelukku dan menangis. Lalu mulai bercerita di sela-sela tarikan ingus dan airmata yang seperti air terjun, tentang hal-hal baru yang kamu temukan selama kamu berkelana. 

Tak Pernah Kita Pikirkan
Ujung Perjalanan Ini
Tak Usah Kita Pikirkan
Ujung perjalanan ini
Dan tak usah kita pikirkan
Ujung perjalanan ini...

Selamat beristirahat, Peri.

-ASV 

2 komentar:

  1. tak usah kita pikirkan ujung perjalanan ini.. ^^,

    BalasHapus
  2. Hei, Anon. Terimakasih sudah baca post aku.. ^^,

    BalasHapus