Senin, 02 Maret 2015

Terimakasih, kamu..

Disela-sela waktu istirahatku, sengaja aku menulis ini. Sudah dari lama aku ingin menuliskan tentang kamu, untuk yang pertama kalinya, sebagai seseorang yang sudah membuatku berpikir--Iya, sudah waktunya aku membuka hati untuk menerima yang baru--Klise dan berlebihan mungkin. Tapi memang benar begitu. Kemarin-kemarin sebelum kenal kamu, aku sama sekali belum kepikiran untuk membuka hati dan menerima siapapun untuk kukunci didalam hatiku.

Menghabiskan waktu dengan saling tukar chat di bbm bersama kamu, membuat aku sering tersenyum sendiri. Bagaimana mungkin, teman lama sepertimu, bisa membuat aku salah tingkah. Aneh bukan? Bahkan terkadang aku selalu bertanya dalam diam, kamukah orang yang paling tepat untukku? Kamukah yang pada akhirnya akan membuat aku merasakan jatuh cinta di setiap harinya? Atau, kamukah yang akan membuat Ayahku mengatakan "Yasudah, kalau memang dia yang membuat kamu bahagia."?

Sebulan sudah waktuku habis untuk mencoba mengenal kamu. Mengenal apa yang kamu tidak suka, mengenal apa yang kamu suka, mengenal tentang kamu. Meski pada akhirnya, tak banyak yang kutahu tentang kamu. Kamu begitu rapi menyimpan hidupmu. Bahkan untukku, perempuan yang jelas-jelas sudah memberikan begitu banyak cerita hidupnya untukmu. Kamu tahu tentang aku, tapi tidak sebaliknya.

Will you accompany me to be nice person?
Stand by me in good or worst sittuation
Sleeping next to me every night, hugh me,
and make me fall in love with you in the morning.
Dear,
Having you make me feel complete
Loving you is my desire 
And to be with you is my destiny
Will you loving me every single day?
As always i do.
:)

Bagaimana mungkin chat seperti itu aku abaikan? Bagaimana mungkin aku tidak terbawa perasaan saat membacanya? Apalagi saat aku juga mengkaitkan hal tersebut dengan foto kamu yang sedang diatas gunung, dimana kamu sedang memegang kertas bertuliskan namaku, "Dapat salam dari Mt. Cikuray." kurang lebih begitu lanjutannya. Bukankah wajar kalau pada akhirnya, ada pengharapan dari hatiku? Berlebihankah aku saat aku ingin kamu? Berlebihankah kalau pada akhirnya, aku mengatakan aku jatuh cinta padamu?

"Dia nggak cukup baik buat kamu, aku tahu betul bagaimana dia. Jangan terlalu berharap ya." Kira-kira begitulah pesan dari sahabat kecilku saat aku menceritakan tentang kamu. Tetapi, aku yang bebal pada akhirnya membuang pesan itu tanpa menyaringnya, atau bahkan membuatku sedikit berpikir ulang.

Aku terlalu jauh berjalan diatas pengharapan. Terlalu bahagia karena berpikir, akhirnya aku menemukannya. Tanpa berpikir, bahwa yang dikatakan sahabat kecilku adalah benar. Tanpa menyadari bahwa aku terlalu jauh membiarkan kamu membawa sebongkah hati yang tertinggal dari masalaluku yang membunuh.

Sehingga pada saat kamu mulai terasa jauh, aku akhirnya merasa sakit. Apalagi saat dengan ringannya kamu bilang, bahwa aku terlalu baper. Lucu ya? Kamu yang menerbangkan aku, lalu kamu juga yang akhirnya melepaskanku. Ah iya, sebenernya tidak lucu, tapi sangat-sangat-sangat lucu. Aku lupa pernah membaca sebuah quotes, kurang lebih katanya, orang yang membuatmu bahagia bisa membuatmu terluka. Dan inilah yang kurasakan :)

Berbulan-bulan, aku memperbaiki semuanya lagi, sendiri. Mengumpulkan kembali serpihan-serpihan rasa sakit di hati. Lalu menatanya kembali seperti semula. Kamu hampir sempurna membuatku terluka. Hampir kukatakan sempurna sebelum akhirnya aku berpikir, bahwa aku punya Tuhan yang Maha Sempurna.

Terimakasih untuk pelajaran yang amat sangat berharga.

Perempuan yang punya mimpi mendaki gunung..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar