Selasa, 24 Maret 2015

Kemarin aku bertemu denganmu. Kamu masih sama seperti sebulan lalu. Dengan kaos oblong tertutup jaket dan lesung pipi yang selalu setia pada senyumanmu. Melihatmu dengan senyummu yang sedikit itu, entah mengapa membuat hatiku senang. Ada rasa bahagia yang tak bisa ku jelaskan disini. Yang pasti, aku bersyukur akan bisa melihatmu setiap minggu. Menemaniku didalam kelas yang mungkin saja akan terasa membosankan.

Saat kamu mengetuk pintu dan mulai melangkah masuk dengan senyum yang selalu ku nilai manis itu, entah kenapa aku merasa seperti ada kepakan kupu-kupu yang ingin menerobos keluar dari dalam perut. Aku tersenyum sendiri tanpa sebab. Pikiranku berlari-lari, mengkhayal kamu duduk disampingku dan menyapaku. Aku terperangah saat tepukan kecil menepuk tanganku. Lebih terkaget-kaget saat aku menyadari, bahwa tangan yang menepuk tanganku adalah tanganmu yang berwarna cokelat dengan bulu yang lumayan tebal.

"Gue boleh duduk disini?" 

Aku salah tingkah. Aku yakin, wajahku pasti memerah saat itu. Aku begitu gugup saat mengambil tas ranselku yang ku letakkan disamping tempat dudukku, lalu berusaha biasa saja saat menyilahkanmu duduk ditempat itu. Aku tersenyum, meski aku yakin kamu tidak akan mengerti maksud senyumanku yang sesungguhnya.

Segala penjelasan dari dosen cantik saat itu, tidak berhasil merangsek masuk ke dalam pikiranku. Hilang begitu saja. Yang tersisa di kepala hanya kamu yang sedang duduk dan tersenyum manis. Ah, sebegini anehnya yaa rasa yang orang-orang sebut sebagai jatuh cinta? Rasanya seperti tidak berada di tempatnya, mengambang. Pikiran dan badan tidak sejalan sepertinya.

Tidak sedikitpun aku berhenti memperhatikan kamu. Dari mulai kamu mengeluarkan binder kuliahmu, lalu pulpen standart warna hitam, disusul dengan lipatan kertas yang kamu kipas-kipas di daerah lehermu. Dari ujung mataku, aku melihat keringat yang masih menetes dari ujung rambutmu yang rasanya semakin hari semakin gondrong. Tidak kau potongkah rambutmu yang tebal dan hitam itu?

Setelah mencatat tugas, dan dosen cantik mengakhiri jam kuliah hari itu, ada rasa kecewa yang tiba-tiba menyambutku. Rasa kehilangan yang aku sendiri pun tahu, bahwa minggu depannya akan bertemu lagi. Ah sebegini rumitnya kah?

Dengan mawar yang sedang merekah-

2 komentar: