Sabtu, 07 Maret 2015

Sebab cintaku; Kamu.

Dear,  Pria-ku..

Saat menulis ini, aku sedang mencoba menghapus sisa-sisa airmata yang masih tertinggal tadi sore. Rasanya seperti mimpi. Tetapi, ketika aku melihat pipiku yang membiru, aku tahu bahwa ini nyata. Bahwa ini sedang terjadi padaku. Bahwa kamu sudah mulai melukai fisikku. Jauh setelah kamu melukai hatiku.

Bolehkah aku bertanya padamu? Pada pria yang akan selalu aku puja dan akan selalu aku cinta. Harus berapa lama lagi aku harus bertahan pada pilihanku; Kamu. Harus sesakit apa lagi aku harus terluka oleh pria yang kusayang; Kamu. Harus sehina apa lagi agar aku bisa dipandang oleh pria yang memang sudah seharusnya menjagaku; Kamu.

Harus seperti apalagi aku mencintaimu? Bukankah semua hal telah kulakukan?

Aku tak peduli atas pengabaianmu pada malam-malam dinginku. Aku tak peduli atas penolakan-penolakan kasarmu pada caraku mencintaimu. Aku tak peduli segala macam pengkhianatan yang telah kau berikan. Aku tak peduli berapa banyak aku harus membayar padamu, untuk mendapatkan perhatianmu. Sebab cintaku; Kamu.

Pagi tadi, saat kamu pergi setelah hampir menamparku, aku menangis. Tetapi setelahnya, aku berpikir lagi. Aku percaya, kamu hanya sedang ingin meluapkan masalah-masalah dari kantormu, sebab semalam kamu pulang larut malam dengan wajahmu yang lesu. Aku percaya kamu tidak akan melukai fisikku, karena aku yakin masih ada cinta disana; Hatimu. Aku mencoba menghapus airmata itu. Airmata yang aku tahu justru akan membuatmu semakin marah.

Aku sengaja menyiapkan makan malam istimewa, untuk menyambutmu. Untuk menghibur kepenatan hidupmu. Untuk membuatmu memelukku. Aku memasak dengan cinta. Aku memberinya bumbu dengan doa tulusku. Juga tak lupa ku hias dengan kasih sayang.

Ketika aku mendengar bel dari arah luar, kamu tahu seperti apa perasaanku saat itu? Aku bahagia. Sebentar lagi aku akan melihat senyummu yang tiga bulan ini hilang. Sebentar lagi aku akan berada dipelukanmu. Sebentar lagi aku akan mendapatkan kecupan kasih sayangmu. Iya, sebentar lagi.

Tetapi, ketika yang kudapat bukan hal yang kuharapkan, aku hanya bisa meluruhkan airmataku. Hatiku yang sudah hancur, semakin remuk redam. Perempuan itukah yang akan menggantikan aku di hatimu? Perempuan itukah yang saat ini menerima semua hatimu? Perempuan itukah yang kamu beri kebahagiaan selama ini? Perempuan itukah yang .... ? Pertanyaan demi pertanyaan memelukku.

Kamu tahu? Rambut yang tertarik oleh perbuatan tanganmu, tidak sesakit dan tidak seperih luka dihatiku. Harusnya aku sadar bukan? Lalu kenapa aku masih saja memperjuangkanmu? Bodohkah aku? Yaa, ternyata aku terlalu bodoh. Hingga pada akhirnya, pipiku yang membiru ini, adalah jawaban Tuhan untukku. Untuk membuatku membulatkan niat untuk meninggalkanmu. Melepasmu sesakit apapun itu.

Ternyata bukan caraku yang salah. Bukan pengorbananku yang salah. Juga bukan cintaku yang salah. Tetapi, yang salah adalah pilihanku. Iya, aku salah memilih pria untuk meletakkan cintaku; Kamu.

Berdoalah semoga cintaku masih sama; Untukmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar