“Tanpamu, apakah aku akan baik-baik saja?”
Berlatarbelakang tahun 1997, film ini
mengangkat kisah ketika Thailand sedang mengalami krisis
moneter. Kejadian ini membuat dua keluarga yang sedang membangun sebuah apartment terpaksa
menghentikan proyek pembangunannya dan jatuh bangkrut. Kedua sahabat—Ib
(Panisara Rikulsurakan) dan Boum (Thunyaphat Pattarateerachaicharoen), turut
merasakan frustasi kebangkrutan ayah-ayah mereka. Keduanya berusaha saling
menguatkan.
Di atas gedung yang pembangunannya
terhenti, mereka sama-sama menangisi nasib keluarganya. Ditengah rasa depresi,
putus asa dan luka, membuat keduanya memutuskan untuk sama-sama mengakhiri
hidup.
“Jangan biarkan aku mati sendirian tanpamu, berjanjilah
padaku.”
Keduanya berjanji.
Ib terkapar. Tubuhnya penuh dengan
darah. Boum shock dan
ketakutan, kemudian berlari pergi dan mengingkari janjinya.
Dua puluh tahun berlalu, Boum dewasa
(Numthip Jongrachatawiboon) kembali ingin memulai kembali proyek ayahnya yg
terbengkalai. Pergi bersama anaknya—Bell (Apichaya Thongkham) untuk melihat
gedung itu, membuat Ib akhirnya kembali untuk menagih janjinya. Tetapi bukan
nyawa Boum yang ia mau, melainkan nyawa Bell, anaknya.
“Aku bangga dengan keputusanmu untuk tidak bunuh diri
pada waktu itu, Ma.”
Film ini cocok di tonton ketika weekend
bersama keluarga. Karena moral value tentang kekuatan cinta dan besarnya kasih
sayang Ibu dan anak, sangat kental sekali. Persahabatan, janji, juga saling
menjaga di dalam keluarga menjadi prioritas di dalam film ini.
Tidak banyak penampakan hantu Ib yang
terlihat di sepanjang film. Tetapi suasana tetap syarat dengan kesan horor yang
mencekam dan menegangkan. Garapan sutradara Sophen Sakdaphisit ini, menjadi
rekomen baru bagi teman-teman yang ingin menonton film horor ringan tetapi
tetap related dengan
kehidupan.
Selamat memasukkan list film ini, ke
daftar list film yang akan kamu tonton untuk mengisi waktu di sela-sela
kebosanan karena pandemi tahun ini.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar