Selasa, 21 Juli 2020

Review Buku : Ganjil Genap

  Judul Buku : Ganjil  Genap
Pengarang : Almira Bastari
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Diterbitkan, pertama kali : Jakarta, 2020
Cetakan ketiga : Maret 2020
Editor : Claudia Von Nasution
Tebal : 344 Halaman, 20 cm
ISBN : 978-602-06-380-10
Sinopsis :
 
Gimana rasanya diputusin setelah berpacaran selama tiga belas tahun?

Hidup Gala yang mendadak jomblo semakin runyam ketika adiknya kebelet nikah! Gala bertekad pantang lanjang menjelang kepala tiga. Bersama ketiga sahabatnya, Nandi, Sydney dan Detira, strategi pencarian jodoh pun disusun. Darat, udara, bahkan laut ‘disisir’ demi menemukan pria idaman.

Akankah Gala berhasil menemukan pasangan untuk menggenapi hari-hari ganjilnya?

“Bisa berbahagia nyatanya belum tentu bisa didapatkan dengan "digenapi" orang lain.
Bahagia harusnya datang dari diri sendiri.”   

Baca novel ini, pas banget ketika hubungan gue juga selesai. Jadi sangat paham dengan perasaan kalutnya Gala yang berhadapan dengan pasangan yang gagal dengan komitmennya sendiri.

Putus setelah berpacaran tiga belas tahun, di usia yang sudah diujung. Juga ditengah adiknya yang sudah berencana menikah. Paham ngga bagaimana letak luka dan perihnya?

“Jodoh bukan sesuatu yang bisa dipaksa, sesederhana itu.” 
–Jomblo yang dilangkahi.

Jangankan Gala yang sudah memasuki kepala tiga, gue yang masih jauh dari kepala tiga saja, rasanya sudah seperti ingin tinggal di hutan tiap kali ditanya kapan menikah. Jadi cukup wajar jika Gala merasa, kalut, cemas dan insecure meski Gala lulusan dari Universitas terbaik.

“Patah hati tidak hanya mengajarkan apa yang tidak kita mau,
tapi juga memberikan keberanian untuk menjalani apa yang kita mau.”

Salutnya adalah meski sedang berada ditengah perasaan kalut dan lukanya, Gala tetap berdiri dengan tegar. Tetap mencoba berbagai cara, bagaimana dia bisa menemukan jodoh tepat sebelum pernikahan adiknya dilaksanakan. Meski dari sekian banyak usahanya mencari, dari mulai mencoba aplikasi dan perjodohan teman-temannya, berakhir dengan kegagalan. Gala tetap menjadi perempuan yang kuat.

Suka sekali dengan karakter Gala yang dibentuk oleh Mbak Almira. Tipe perempuan cerdas, mandiri, tapi tidak menghilangkan kodratnya sebagai perempuan yang manja, cengeng, labil dan beberapa kali mendramatisir keadaan ketika jatuh.

“Sahabat adalah pertolongan pertama, saat putus cinta.”
–Jomblo yang tidak ingin sendiri.

Pasca baca novel Resign-nya Mbak Almira, gue emang jadi jatuh cinta banget sih sama alur di kedua bukunya. Alur cerita yang santai tapi padat berisi. Kesibukan dan haha-hihi persahabatan Gala dan genk nya, dalam mencarikan jodoh untuk Gala, sama sekali tidak membuat jenuh untuk menunggu akhir cerita dari Gala (dan Mas Aiman).

Setelah membaca novel yang sangat related ini, membuatmu menjadi sadar untuk belajar bagaimana caranya membahagiakan diri sendiri dan membuatnya berharga. Novel ini juga juga cocok untuk self healing dan self love pasca kehilangan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar