Dear, lelakiku yang hebat..
Bagaimana kabarmu disana? Baik-baik sajakah? Bagaimana lukamu atas perpisahan kita? Apakah sudah mengering? Apakah kamu sudah dapatkan kehangatan yang sejati?
Sebenarnya, aku tidak ingin bertegur sapa lagi padamu, lewat surat sekalipun. Tapi rasanya, semenjak Januari terlewat begitu saja, aku jadi sering tak karuan. Aku sering tiba-tiba jatuh pada kenangan kita. Aku sering tiba-tiba terpejam, lalu menangis. Tak jarang pula, aku tiba-tiba menyebut namamu. Dan saat itu tiba, aku seperti ingin berlari kerumahmu. Menemuimu dan tenggelam dalam rengkuhanmu.
Aku masih menjadi wanita cengeng. Masih sama seperti saat kamu pergi. Masih sering salah paham pada Ayah. Masih sering membangkang pada Mama. Masih sering mengabaikan kedua adikku. Maafkan aku yang tak menjaga pesanmu.
"Mama sama Ayah itu orang baik, mbak. Jangan nakal ya, mbak. Karena mbak harus jadi contoh yang baik untuk adik-adiknya mbak." Ucapmu begitu ringan, dengan permen yang masih kau simpan dalam mulutmu.