Selasa, 03 Maret 2015

Delapan, Delapan, Delapan

Dengan tulisan ini, berarti aku sudah memenuhi janjiku padamu. Tadi pagi saat aku membaca pesan yang masuk ke bbm dari kamu, aku terharu. Senang kamu sudah bersedia membaca tulisan-tulisanku disini. Meski tak ada satupun cerita tentang kamu. Maka setelahnya, aku berjanji akan menulis tentang kamu, disini.

Aku bingung ingin memulainya darimana. Haruskah aku menceritakan awal perkenalan kita? Perkenalan yang membuatmu terluka karena aku. Atau, apakah aku boleh melompati kejadian itu? Lalu memulainya setelah kita sama-sama mampu berpikir dewasa? Ah sudahlah, biarkan jariku menari semaunya. Biarkan kenangan kita yang menuntun tarian jemariku.

Sejak kapan kamu mengenalku? Benar bukan bahwa kamu yang lebih dulu mengenal aku saat itu? Biar kutebak sedikit, mungkinkah kamu mulai mengenalku saat aku memintamu untuk menukar tempat dudukmu yang didepan, dengan tempat dudukku yang dibelakang? Atau sebelumnya kamu memang sudah melihatku? Ah aku percaya diri sekali ya? Bisakah kamu beritahu aku, sejak kapan kamu mengenal aku?

Senin, 02 Maret 2015

Terimakasih, kamu..

Disela-sela waktu istirahatku, sengaja aku menulis ini. Sudah dari lama aku ingin menuliskan tentang kamu, untuk yang pertama kalinya, sebagai seseorang yang sudah membuatku berpikir--Iya, sudah waktunya aku membuka hati untuk menerima yang baru--Klise dan berlebihan mungkin. Tapi memang benar begitu. Kemarin-kemarin sebelum kenal kamu, aku sama sekali belum kepikiran untuk membuka hati dan menerima siapapun untuk kukunci didalam hatiku.

Menghabiskan waktu dengan saling tukar chat di bbm bersama kamu, membuat aku sering tersenyum sendiri. Bagaimana mungkin, teman lama sepertimu, bisa membuat aku salah tingkah. Aneh bukan? Bahkan terkadang aku selalu bertanya dalam diam, kamukah orang yang paling tepat untukku? Kamukah yang pada akhirnya akan membuat aku merasakan jatuh cinta di setiap harinya? Atau, kamukah yang akan membuat Ayahku mengatakan "Yasudah, kalau memang dia yang membuat kamu bahagia."?