Minggu, 06 November 2016

Enam Tahun, bersamamu

Sabtu ini, masih sama dengan sabtu-sabtu sebelumnya. Masih harus mengerjakan urusan kantor, yang semakin lama semakin membuat aku rindu untuk segera pulang. Pesanmu siang tadi, menambah rinduku. Bertemu cinta yang nyaris enam tahun ini kupupuk setiap hari. Bertemu, kamu.

“Aku ingin mengajakmu makan malam.” Begitulah isi pesanmu.
Aku membayangkan akan kamu bawa ketempat makan kesukaan kita. Dipinggir jalan, samping klinik.

Selepas pukul lima sore, aku segera merapihkan berkas-berkas laporan, mematikan komputer dan bergegas menyeret tas kerjaku yang pagi tadi kuletakkan di samping meja kerjaku. Aku berjalan cepat menuju lift agar cepat sampai ke lantai bawah. Aku ingin cepat bertemu kamu, untuk memupus rindu, yang sudah kutumpuk beberapa minggu.

”Kamu cantik hari ini, sayang.”
Kontan kata-katamu membuat aku tak berhenti tersenyum. Bahagia itu semudah ini, ya?

Minggu, 30 Oktober 2016

Berterimakasih, lah


Sebelumnya, saat saya disodorkan dengan obrolan mengenai drama korea, saya terang-terangan menyatakan bahwa saya tidak tertarik. Bahkan saya pernah berdebat dengan teman dan membuatnya tersinggung, hanya karena saya tidak menyukai sikapnya yang terlalu addict dengan yang berbau korea.

Satu minggu ini, saya sedang merasa lelah—jengah—dengan segala hiruk pikuk angka yang setiap hari harus selalu saling sapa. Saya sudah mencoba melampiaskan rasa jengah ini dengan chatting dengan obrolan-obrolan absurd bersama seseorang yang cukup penting untuk saya, seseorang yang sudah mempunyai tempat khusus dihati saya. Lalu, saya juga sudah mencoba membalikkan mood membaca saya, dengan membaca novel yang sedang saya ingin baca. Tetapi, nyatanya rasa bosan itu tak juga hilang.

Dulu sekali, saya pernah menyimpan sebuah folder drama korea di flashdisk. Hanya satu, karena memang itupun tak sengaja tersimpan di dalam flashdisk milik saya. Saya mengernyit saat awal-awal mencoba menontonnya. Seperti bukan hidup di dunia saya. Saya bukan type orang yang suka menonton.