
Cita-citaku, kepingin jadi dokter
Cita-citaku, ingin
jadi insinyur
Cita-citaku, menjadi
anak pinter
Cita-citaku, Ingin
jadi presiden
….
….
(Susan Punya Cita-cita—Cipt. Ria Enes)
(Susan Punya Cita-cita—Cipt. Ria Enes)
Tadi
pagi saat berhenti di lampu merah, saya berada tepat di sebelah mobil Honda
Jazz hitam yang kacanya dibuka setengah oleh si pemilik. Saya mendengar lagu
anak-anak yang pernah booming di tahun 90-an. Teman-teman yang lahir pada tahun
90-an, tentu kenal betul dengan sosok boneka lucu, yang diberi nama Susan oleh
kak Ria Enes, yang tak lain sebagai pengisi suara dari boneka tersebut.
Memori
di kepala saya, langsung berputar pada minggu pagi di belasan tahun yang lalu. Dimana
saat itu, mama sedang senang-senangnya mempunyai anak perempuan yang bisa
dijadikan bonekanya. Mama sering membuatkan baju dress lucu-lucu, untuk anak
perempuannya yang baru satu. Mama juga senang mengepang rambut saya yang berwarna cokelat panjang, lalu diikat
pita warna-warni. Dan juga, mama yang sedang senang menanyakan apa cita-cita
saya kalau sudah besar nanti.
Diumur
yang belum genap lima tahun, guru adalah satu-satunya cita-cita yang saya
mimpikan. Saya suka membayangkan, bagaimana saya ketika nanti saya mengenakan
seragam guru atau bagaimana cara saya mengajar. Apakah saya bisa sabar seperti Ibu
Nurfah, guru saya saat di kelas 2. Apakah saya akan menjadi guru yang tegas
seperti Ibu Tri, guru Olahraga yang saat itu disenangi oleh para wali murid
karena ketegasannya. Atau apakah saya akan menjadi guru galak, yang ditakuti
oleh murid-muridnya seperti Ibu Netty, guru saya saat di kelas 3. Seperti apapun
saya nanti, pada saat itu, saya tetep kekeh
untuk menjadi seorang guru.
Beranjak
beberapa tahun kemudian, cita-citapun berubah. Rasanya menjadi guru sangat
membosankan. Duduk didalam kelas, menerangkan materi yang itu-itu saja—pun pada
tahun-tahun berikutnya, sambil menatap murid-murid yang mempunyai pola pikir
berbeda-beda. Menjemukan.
Selepas
berkenalan dengan Enid Blyton dalam karya-karyanya yang menakjubkan. Cita-citapun
menjadi semakin berubah, saya kepikiran untuk menjadi penulis. Menciptakan tokoh-tokoh
imajinasi saya pada dunia yang berbeda dengan dunia saya. Menciptakan petualangan-petualangan
keren, sama seperti yang Enid Blyton ciptakan. Menciptakan akhir yang bahagia
untuk setiap akhir petualangan kehidupan siapapun dalam dunia yang lain.
Sampai
pada akhirnya, cita-cita itu mengakar di dalam diri saya—sampai sekarang. Sampai
usiapun sudah tak lagi muda, dan berpikirpun tak se-klise imajinasi belasan
tahun yang lalu.
Meski
pada akhirnya, dunia menulis tak lagi jadi prioritas ketika saya terjerembab
pada angka-angka yang menghasilkan banyak uang di buku tabungan saya. Dan menjadikan
dunia lain yang ingin saya ciptakan, sebagai penghipur lara. Terkadang, jika
saya sedang jengah, rasanya saya ingin kembali mengejar dunia tulis saya yang
berlarian. Tetapi, apakah saya akan bahagia dengan dunia tulis saya? Rasanya belum
tentu.
Sepertinya
saya harus berpikir realistis, belajar mencintai dan bersyukur atas apa-apa
yang sudah ditakdirkan untuk saya. Termasuk mencintai angka yang membuat saya
terkapar. Meski tak bisa menggapai cita-cita semasa kecil, setidaknya saya bisa
memeluknya, merasa memiliki setiap kata teruntuk orang-orang yang saya sayangi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar