Rabu, 21 Desember 2016

Cita-cita Tak Sampai


Cita-citaku, kepingin jadi dokter
Cita-citaku, ingin jadi insinyur
Cita-citaku, menjadi anak pinter
Cita-citaku, Ingin jadi presiden
….
….

(Susan Punya Cita-cita—Cipt. Ria Enes)


Tadi pagi saat berhenti di lampu merah, saya berada tepat di sebelah mobil Honda Jazz hitam yang kacanya dibuka setengah oleh si pemilik. Saya mendengar lagu anak-anak yang pernah booming di tahun 90-an. Teman-teman yang lahir pada tahun 90-an, tentu kenal betul dengan sosok boneka lucu, yang diberi nama Susan oleh kak Ria Enes, yang tak lain sebagai pengisi suara dari boneka tersebut.

Memori di kepala saya, langsung berputar pada minggu pagi di belasan tahun yang lalu. Dimana saat itu, mama sedang senang-senangnya mempunyai anak perempuan yang bisa dijadikan bonekanya. Mama sering membuatkan baju dress lucu-lucu, untuk anak perempuannya yang baru satu. Mama juga senang mengepang rambut saya yang berwarna cokelat panjang, lalu diikat pita warna-warni. Dan juga, mama yang sedang senang menanyakan apa cita-cita saya kalau sudah besar nanti.

Diumur yang belum genap lima tahun, guru adalah satu-satunya cita-cita yang saya mimpikan. Saya suka membayangkan, bagaimana saya ketika nanti saya mengenakan seragam guru atau bagaimana cara saya mengajar. Apakah saya bisa sabar seperti Ibu Nurfah, guru saya saat di kelas 2. Apakah saya akan menjadi guru yang tegas seperti Ibu Tri, guru Olahraga yang saat itu disenangi oleh para wali murid karena ketegasannya. Atau apakah saya akan menjadi guru galak, yang ditakuti oleh murid-muridnya seperti Ibu Netty, guru saya saat di kelas 3. Seperti apapun saya nanti, pada saat itu, saya tetep kekeh untuk menjadi seorang guru.

Beranjak beberapa tahun kemudian, cita-citapun berubah. Rasanya menjadi guru sangat membosankan. Duduk didalam kelas, menerangkan materi yang itu-itu saja—pun pada tahun-tahun berikutnya, sambil menatap murid-murid yang mempunyai pola pikir berbeda-beda. Menjemukan.

Selepas berkenalan dengan Enid Blyton dalam karya-karyanya yang menakjubkan. Cita-citapun menjadi semakin berubah, saya kepikiran untuk menjadi penulis. Menciptakan tokoh-tokoh imajinasi saya pada dunia yang berbeda dengan dunia saya. Menciptakan petualangan-petualangan keren, sama seperti yang Enid Blyton ciptakan. Menciptakan akhir yang bahagia untuk setiap akhir petualangan kehidupan siapapun dalam dunia yang lain.

Sampai pada akhirnya, cita-cita itu mengakar di dalam diri saya—sampai sekarang. Sampai usiapun sudah tak lagi muda, dan berpikirpun tak se-klise imajinasi belasan tahun yang lalu.

Meski pada akhirnya, dunia menulis tak lagi jadi prioritas ketika saya terjerembab pada angka-angka yang menghasilkan banyak uang di buku tabungan saya. Dan menjadikan dunia lain yang ingin saya ciptakan, sebagai penghipur lara. Terkadang, jika saya sedang jengah, rasanya saya ingin kembali mengejar dunia tulis saya yang berlarian. Tetapi, apakah saya akan bahagia dengan dunia tulis saya? Rasanya belum tentu.

Sepertinya saya harus berpikir realistis, belajar mencintai dan bersyukur atas apa-apa yang sudah ditakdirkan untuk saya. Termasuk mencintai angka yang membuat saya terkapar. Meski tak bisa menggapai cita-cita semasa kecil, setidaknya saya bisa memeluknya, merasa memiliki setiap kata teruntuk orang-orang yang saya sayangi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar