Saralee berjalan anggun dengan gaun dan sepatu yang berharga puluhan juta, memasuki sebuah apartemen di bilangan Jakarta Selatan. Saralee menyapa petugas keamanan yang sedang berjaga di pintu lobby, dengan senyumannya yang manis dan sederet gigi yang putih bersih. Kakinya yang jenjang, melangkah cepat menuju lift yang sebentar lagi akan tertutup.
Ketika sampai didalam sebuah kamar yang penghuninya sedang berada di dalam kamar mandi, ia mematut wajahnya di kaca kecil tepat di sebelah rak buku besar di ruang tengah kamar itu. Kecantikannya terasa menghilang, sebab wajah sayunya tampak keluar malu-malu dari persembunyiannya. Mata lentiknya melahirkan kesedihan yang tak bisa di terka oranglain. Hanya dirinya sendiri yang bisa menyentuh kesedihan itu.
Tunangannya tak mungkin kembali. Cintanya tak lagi untuk Saralee. Saralee berpikir, tidak ada gunanya dia melakukan segalanya sampai di titik ini. Saralee ingin kembali pada dunianya yang dulu, yang tak melulu berada dibawah tekanan Bresam. Laki-laki licik yang menjebaknya dibalik parasnya yang menawan. Laki-laki yang membuatnya terkenal dengan imbalan tubuhnya. Untuk itu, ia berada disana. Di dalam kamar yang satu tahun lalu membuat segalanya berubah.
Sebuah tangan menarik tubuhnya ke dalam kamar tidur dengan geram, melepas gaunnya dengan kasar dan melemparnya begitu saja.
***
Tubuhnya tergolek begitu saja di atas ranjang besar berukuran king size. Berselimut udara malam yang masuk melalui balkon sebuah kamar apartemen. Perlahan matanya terbuka, sembari menahan kepalanya yang terasa pengar, dan nyeri di pangkal pahanya. Jantungnya berdegup. Tiba-tiba air matanya meleleh, menetes ke buah dadanya yang tak terbalut kain apapun. Tangannya menarik selimut tebal diujung ranjang untuk menutupi tubuhnya, kepalanya menelungkup dalam-dalam ke lututnya.
Semalam, perempuan itu pergi ke diskotik yang biasa didatangi oleh tunangannya. Mencari-cari dalam depresinya. Ia yakin tunangannya bermain dibelakangnya dengan selebritis yang sedang naik daun saat itu. Tapi jejak tunangannya tidak ada disana. Dalam pikirannya yang kalut, ia memesan segelas bir yang namanya saja ia tak tahu. Seteguk, dua teguk, sampai habis bergelas-gelas. Matanya menjadi nanar dan membuat jalannya terhuyung-huyung.
Perempuan itu yakin, semua ini terjadi setelah itu.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka, perempuan itu tersentak. Masuklah seorang laki-laki yang umurnya berkisar tiga puluhan. Tubuhnya tegap dan kekar, kulitnya cokelat, matanya tajam dan senyumnya menyimpan banyak rahasia. Laki-laki itu mendekat. Dan, meraba wajah perempuan itu dengan lembut.
“Bagaimana tidurmu?”
Perempuan itu bisu, dengan pipi yang masih basah.
“Dalam ceracaumu semalam, saya menangkap bahwa kamu ditinggal tunanganmu, demi selebritis yang belum seberapa itu. Bagaimana kalau kamu menjadi artisku? Akan kubuat kamu menjadi lebih terkenal. Dan kamu bisa merebut kembali tunanganmu.”
Dalam perjalanan pulang, perempuan itu mengiyakan banyak hal. Pikiran kalutnya membuat ia tidak berpikir panjang. Pikirannya langsung mengembara pada bahagia yang mungkin saja akan ia dapatkan bersama tunangannya, kalau saja nanti tunangannya mau kembali. Dan, meninggalkan selebritis itu.
***
Pertemuannya dengan mantan tunangannya, membuka matanya lebar-lebar. Sebesar apapun usaha Saralee untuk membuat mantan tunangannya kembali, semuanya akan sia-sia. Mungkin benar, cinta mantan tunangannya sudah habis tak bersisa untuknya. Saralee harus mengakui, bahwa cinta yang dimiliki mantan tunangannya bukan lagi untuknya. Bukan dari sikap acuhnya yang ia lihat, tetapi dari sesuatu yang melingkar di jari manisnya.
Saralee menyadari, bahwa sebenarnya ia tetap bisa bahagia tanpa mantan tunangannya itu. Hanya saja, satu tahun ini, Saralee terkungkung dalam pikiran pendeknya. Saralee harus melangkah meninggalkan, dan mengikhlaskan. Saralee harus mengakhiri segalanya—rasanya juga profesi barunya.
Maka bulatlah ia pada keputusannya, untuk menghilang pindah ke kota lain, agar tak terkejar oleh Bresam. Meski Saralee yakin, Bresam tidak akan butuh waktu lama untuk melupakan dirinya dan mencari mangsa baru untuk menggantikannya.
***
Setelah beberapa bulan menghilang, Bresam berhasil menemukannya lagi. Parasnya masih cantik meski matanya kian sayu dan warna hitam melingkar di bawah matanya. Kulitnya masih putih bersih meski tak secerah dulu. Rambutnya masih hitam dan panjang, meski tak sehalus dulu.
Saralee diam, saat tangan besar Bresam meraba wajahnya lagi. Tatapannya kosong.
Pintu kamar Saralee terbuka, masuklah seorang perempuan dengan seragam putihnya, membawa makanan dan beberapa butir obat-obatan. Setelah memberikan semuanya kepada Bresam, perempuan itu kembali pergi.
“Makan dan minum obat dulu ya, sayang. Agar kamu cepat sembuh dan segera keluar dari tempat ini.”
Raut wajah Bresam menjadi sedih. Dia tak ingin kehilangan Saraleenya lagi, untuk yang kedua kalinya. Bresam yakin, perasaannya itu adalah cinta. Meski Saraleenya terus memanggil tunangannya, Bresam tak peduli. Dia ingin terus bersama Saraleenya, meski tidak bisa secepat harapannya.
Bresam terus mengusap lembut rambut Saralee yang kasar, hingga Saralee terlelap.
Kemudian Bresam berdiri dan melangkah pergi meninggalkan kamar Saraleenya.
“Aku janji akan terus datang untukmu, Sara. Aku janji akan menikahimu.” Janjinya di dalam mobil, seraya meninggalkan gedung rumah sakit jiwa di bilangan Jakarta Barat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar