Aku masih sendiri, disini.
Aku masih terpaku pada bayangmu.
Bayangan yang semakin melekat dipikiranku.
Aku, telah mencoba membuang dan menguburnya.
Tapi, tak bisa..
Tentangnya masih terekam dimemoriku,
tersimpan disini.. (Hati)
Kamu, pernah terganti olehnya.
Tapi, singkat..
Semakin aku dapat yang lain,
semakin membuatku terbangun dari khayalku.
Bahwa kamu, memang tak bisa terganti.
Aku sendiri bukan karena rapuh.
Tapi, aku hanya menunggu.
Aku masih sanggup berdiri tegak,
melawan semua asaku.
Andai ada satu nyawa yang bisa gantikan kamu.
Apakah dia akan sama sepertimu?
Sama dalam bersikap, berucap dan semuaanyaa yang aku suka?
Sebab, yang aku butuhkan.
Hanya dia yang mampu buatku tersenyum.
Hanya dia yang tulus.
Hanya dia yang perhatian.
Hanya dia yang sanggup membendung airmataku.
Dan hanya kamu yang mampu menenangkan api dihatiku.
Selama ini, hanya kamu yang mampu!
Maafkan aku.
Maafkan kebodohanku.
Maafkan keegoisanku.
Aku sadar, bahwa kamu terluka.
Hingga pada akhirnya, kamu membisu.
Menahan getir kekecawaan dan asa yang lara.
Dan ..
terdiam melihatku pergi dalam langkah acuhku.
Jakarta, 09 Mei 2012
Aku masih terpaku pada bayangmu.
Bayangan yang semakin melekat dipikiranku.
Aku, telah mencoba membuang dan menguburnya.
Tapi, tak bisa..
Tentangnya masih terekam dimemoriku,
tersimpan disini.. (Hati)
Kamu, pernah terganti olehnya.
Tapi, singkat..
Semakin aku dapat yang lain,
semakin membuatku terbangun dari khayalku.
Bahwa kamu, memang tak bisa terganti.
Aku sendiri bukan karena rapuh.
Tapi, aku hanya menunggu.
Aku masih sanggup berdiri tegak,
melawan semua asaku.
Andai ada satu nyawa yang bisa gantikan kamu.
Apakah dia akan sama sepertimu?
Sama dalam bersikap, berucap dan semuaanyaa yang aku suka?
Sebab, yang aku butuhkan.
Hanya dia yang mampu buatku tersenyum.
Hanya dia yang tulus.
Hanya dia yang perhatian.
Hanya dia yang sanggup membendung airmataku.
Dan hanya kamu yang mampu menenangkan api dihatiku.
Selama ini, hanya kamu yang mampu!
Maafkan aku.
Maafkan kebodohanku.
Maafkan keegoisanku.
Aku sadar, bahwa kamu terluka.
Hingga pada akhirnya, kamu membisu.
Menahan getir kekecawaan dan asa yang lara.
Dan ..
terdiam melihatku pergi dalam langkah acuhku.
Jakarta, 09 Mei 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar