Sabtu, 06 Desember 2014

Dear, Peri Langit..

Bagaimana hari-harimu belakangan ini? Lebih burukkah dari hari sebelumnya?Kuharap tidak begitu. Meski kelihatannya seperti itu.

Aku tidak mengerti kejadian silam apa yang kamu alami. Aku pikir tanpa kamu ceritapun, aku akan tau keadaan dalammu. Telepati kita ternyata tidak sehebat dugaanku. Karena, nyatanya aku sama sekali tidak bisa membaca pikiranmu. Aku butuh cerita kamu, dear.

Aku tidak tau apa yang kamu rasakan, saat kamu bilang "Aku takut ramai.." Karena, disini ada aku. Aku yang sudah pasti menjaga kamu, sahabatku. Aku juga tidak tau apa yang kamu rasakan, sebelum akhirnya kamu jatuh pingsan. Karena, aku hanya bisa memapahmu, memangkumu dan memelukmu, sahabatku. Akupun tidak tahu apa yang kamu rasakan, saat obat-obat pahit itu terpaksa kamu minum, hanya karena kamu ingin semuanya baik-baik saja. Karena, aku hanya bisa duduk manis di sampingmu dan terpaksa melihatmu meminum itu.

Taukah kamu? Bahwa aku sangat merindukanmu. Merindukan masa-masa gila kita. Merindukan masa-masa awal kuliah kita. Merindukan masa-masa penjelajahan kita di setiap malam, di setiap pulang dari tugas-tugas kita yang tak ada habisnya. Merindukan ide-ide konyol yang sering saja muncul tiba-tiba dari imajinasi kita yang terlalu tinggi. Merindukan percakapan ringan kita. Merindukan perdebatan kita. Merindukan apapun itu, yang sering kita lewati bersama. Sungguh. Aku merindukanmu, dear.

Seringkali aku jengah, tiapkali kamu bahas soal kepergian. Karena, aku sama sekali tidak ingin sendiri. Tidak ingin ditinggal pergi. Tidak ingin kesepian.

Kita pasti akan sama-sama pergi. Kita hanya butuh waktu untuk itu. Pada saatnya nanti, teman setia kita hanyalah rindu, kenangan dan airmata. Entah apakah airmata itu untuk mengenang kenangan indah, atau sebaliknya. Tapi yang pasti, sebelum waktu itu tiba, aku ingin tak ada airmata untuk kita.

Kalau nanti, salah satu diantara kita pergi. Aku percaya, itu adalah yang terbaik. Aku percaya, kita tetap akan menyayangi dan mengasihi. Aku percaya, kita akan tetap menjadi yang terbaik. Aku percaya itu, dear.

Untuk saat ini, yang harus kamu lakukan, lawan semua penyakit yang katanya ada di tubuh kamu. Kamu bisa, dear! Aku tahu kemampuanmu. Aku tidak ingin, kamu pergi dengan kepasrahan. Kamu harus pergi saat kamu kalah dalam perjuanganmu. Kamu punya aku, kami. Kamu punya banyak orang yang menyayangi kamu.

Semoga, kamu semakin kuat!

ASV-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar