Hari ini adalah hari terakhir di
Tahun 2014. Tapi sepertinya, ini bukan menjadi hari terakhirku untuk
mencintaimu. Yaa, bisa jadi tidak akan ada akhir. Sebegitu bodohnya kah aku?
Ah, aku tidak peduli. Yang aku tahu, cinta ini masih seperti baru. Seperti
bibit cinta yang baru saja aku tanam kemarin lusa, atau kemarin. Iya, kemarin.
Kemarin itu, saat untuk pertama kalinya aku tahu nama kamu, dan pertama kali
melihat senyum yang entah kenapa, sampai sekarang masih saja ku ingat.
Bagaimana kabarmu? Kabar Ibumu
yang senang sekali mengajakku makan mie ayam bakso speciall disamping rumahmu?
Kabar Ayahmu yang senang sekali mengajakku bicara soal apapun itu, dan senang
sekali memintaku untuk mengajari dan menasehatimu, kalau kamu sedang keras
kepala? Kabar adikmu yang dulu senang sekali memintaku untuk menyuapi nya? Juga kabar kamu dengan
teman-temanmu di band yang kamu geluti dari jaman putih abu-abu dulu? Terakhir yang aku dengar, kamu sudah sering menjadi
bintang tamu acara sekolah. Waah, hebat
yaaa. Kamu pasti sekarang punya lebih banyak fans. Apakah mereka cerewet seperti aku? Atau, gila seperti
aku, dalam mengagumimu? Perlukah aku meminta tandatanganmu, atau foto
bersamamu. Untuk menunjukan bahwa aku sungguh-sungguh dengan pengakuanku, dulu.
Hari ini adalah tahun ke empat
aku menunggu kamu, kembali. Seperti yang pernah kamu janjikan dulu, padaku.
Harusnya mudah bagimu untuk menepatinya, sama mudahnya seperti saat kamu mengucap janji itu, untukku. Bukankah begitu? Iya kan? Mmm, ya, tapi bukankah aku
juga harusnya paham? Bahwa kamu adalah laki-laki-ku yang senang berpetualang. Senang mencicipi kebebasan dan senang
mengecap manisnya hubungan singkat? Ya harusnya aku tidak melupakan itu. Ternyata
hari ini, juga adalah tahun keempatku untuk menata hati (lagi).
Semua tidak akan pernah mudah, sayang. Cinta yang kupunya begitu besar,
begitu agung¸ menurutku. Sehingga, ketika
cinta yang begitu besar itu terlepas, terlempar dan menindih hatiku, aku merasa
nyeri. Sebab hancur yang kudapat.
Kemana kamu malam ini, sayang? Akankah kamu lewatkan malam ini
begitu saja? Seperti yang ku lakukan beberapa tahun ini. Tentunya setelah kamu
pergi, berlari. Aku bosan, sayang.
Bosan dengan setumpuk buku cerita yang menemaniku. Bosan dengan paragraph-paragraph yang terkadang
mengingatkanku kepadamu, lagi dan lagi. Juga bosan dengan lagu yang mengajakku
menari mengejarmu. Aku ingin kamu, disini. Aku ingin kamu yang menemaniku. Aku
ingin kamu, hingga tak perlu lagi aku berusaha melupakanmu. Juga, inginkan
kamu, untuk mengajakku menari dan berputar, tanpa perlu berlari mengejar kenangan
yang kendatinya tidak ada yang tersisa.
Ah. Ternyata hatiku masih sama
seperti dulu. Untuk kamu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar