Rabu, 31 Desember 2014

Tahun Ke-Empat

Hari ini adalah hari terakhir di Tahun 2014. Tapi sepertinya, ini bukan menjadi hari terakhirku untuk mencintaimu. Yaa, bisa jadi tidak akan ada akhir. Sebegitu bodohnya kah aku? Ah, aku tidak peduli. Yang aku tahu, cinta ini masih seperti baru. Seperti bibit cinta yang baru saja aku tanam kemarin lusa, atau kemarin. Iya, kemarin. Kemarin itu, saat untuk pertama kalinya aku tahu nama kamu, dan pertama kali melihat senyum yang entah kenapa, sampai sekarang masih saja ku ingat.

Bagaimana kabarmu? Kabar Ibumu yang senang sekali mengajakku makan mie ayam bakso speciall disamping rumahmu? Kabar Ayahmu yang senang sekali mengajakku bicara soal apapun itu, dan senang sekali memintaku untuk mengajari dan menasehatimu, kalau kamu sedang keras kepala? Kabar adikmu yang dulu senang sekali memintaku untuk menyuapi nya? Juga kabar kamu dengan teman-temanmu di band yang kamu geluti dari jaman putih abu-abu dulu? Terakhir yang aku dengar, kamu sudah sering menjadi bintang tamu acara sekolah. Waah, hebat yaaa. Kamu pasti sekarang punya lebih banyak fans. Apakah mereka cerewet seperti aku? Atau, gila seperti aku, dalam mengagumimu? Perlukah aku meminta tandatanganmu, atau foto bersamamu. Untuk menunjukan bahwa aku sungguh-sungguh dengan pengakuanku, dulu.

Hari ini adalah tahun ke empat aku menunggu kamu, kembali. Seperti yang pernah kamu janjikan dulu, padaku. Harusnya mudah bagimu untuk menepatinya, sama mudahnya seperti saat kamu mengucap janji itu, untukku. Bukankah begitu? Iya kan? Mmm, ya, tapi bukankah aku juga harusnya paham? Bahwa kamu adalah laki-laki-ku yang senang berpetualang. Senang mencicipi kebebasan dan senang mengecap manisnya hubungan singkat? Ya harusnya aku tidak melupakan itu. Ternyata hari ini, juga adalah tahun keempatku untuk menata hati (lagi).

Semua tidak akan pernah mudah, sayang. Cinta yang kupunya begitu besar, begitu agung¸ menurutku. Sehingga, ketika cinta yang begitu besar itu terlepas, terlempar dan menindih hatiku, aku merasa nyeri. Sebab hancur yang kudapat.

Kemana kamu malam ini, sayang? Akankah kamu lewatkan malam ini begitu saja? Seperti yang ku lakukan beberapa tahun ini. Tentunya setelah kamu pergi, berlari. Aku bosan, sayang. Bosan dengan setumpuk buku cerita yang menemaniku. Bosan dengan paragraph-paragraph yang terkadang mengingatkanku kepadamu, lagi dan lagi. Juga bosan dengan lagu yang mengajakku menari mengejarmu. Aku ingin kamu, disini. Aku ingin kamu yang menemaniku. Aku ingin kamu, hingga tak perlu lagi aku berusaha melupakanmu. Juga, inginkan kamu, untuk mengajakku menari dan berputar, tanpa perlu berlari mengejar kenangan yang kendatinya tidak ada yang tersisa.

Ah. Ternyata hatiku masih sama seperti dulu. Untuk kamu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar