Minggu, 14 Desember 2014

Pria Lugu itu, Kamu

Dear, pria lugu yang membuat hatiku ngilu.
Semoga malam ini, peri bintang menyinari tidurmu dan memberi mimpi indah untukmu. Karena, gadis dungu ini, berharap tidurmu tidak terganggu. Supaya seninmu tidak kelabu. Sebab, yang terpenting bagi gadis dungu ini, adalah senyummu.

Tadi, adalah hari tercepat yang pernah aku lalui di sepanjang semester ini. Setelah Dosen tampan itu menyudahi kelas pagi ini, aku segera pergi pulang. Meski, masih saja mata ini ingin mengekori punggungmu yang semakin tertutup oleh teman-temanmu.

Rencana Tuhan selalu indah, meski berseberangan jalan. Aku menangkap kamu, sedang berjalan dengan sahabatmu itu. Andai saja rasa yang sering kuanggap ilusi ini tidak pernah hadir, mungkin aku tidak perlu memalingkan mukaku. Rasanya, menatap kamu saja, aku tidak berani. Aku terlalu cupu untuk soal itu.

Meski beberapa hari lalu aku sudah melihatmu. Tetapi, tidak sedikitpun aku merasa puas. Selalu saja bias. Dan tak berbekas. Ah, semoga kamu terbiasa dengan aku yang sering salah tingkah ini.

Entah sejak kapan, rasa aneh ini ada, yang pasti saat pertama kali kamu senyum malu-malu itu, sebuah kunci diberi Tuhan. Entah kunci untuk mengunci kembali, atau malah untuk membuka organ tubuh yang tak kasat mata ini--untuk yang kesekalian kalinya.

Aku. Ingin kamu.

Perempuan bodoh,
yang sering jatuh; karenamu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar