Kemarin malam, saat jam dinding yang ada di atas tv menunjukkan pukul 00:37, entah kenapa tiba-tiba aku gelisah. Bodoh! Disaat sepenting itu, aku selalu saja gagal menemukan kata-kata yang tepat untukmu. Dengan ringkasnya, aku hanya bilang "Ma, selamat hari Mama, ya. Maaf tidak ada bunga dan hadiah lainnya." Lalu kemudian, dengan kaku aku memeluk tubuhmu, tubuh yang semakin hari semakin kecil saja. Ku nikmati aroma tuamu, dengan kulit yang semakin hari semakin keriput. Ku dekap lelah tubuhmu. Lalu katamu, "Bunga itu, kamu, Kak. Jadilah bunga yang selalu harum di manapun kamu berada ya, Kak." Sebegitu sederhananya hadiah yang kamu pinta, Ma. Rasanya, saat itu juga, aku ingin melebur di pelukmu bersama airmataku. Tapi, kamu tidak suka jika aku cengeng, kan, Ma? Kamu pernah bilang, untuk menjadi seorang Kakak, aku harus mampu menahan airmataku--didepan adik. Ya, malam itu, aku belajar menahan airmata itu, Ma. Meski rasanya sesak itu membuat aku lebih sakit.
Setelah Mama pamit tidur, dan semua tertidur. Tangisku pecah, tangis yang selama ini ku bendung, Ma. Tangis yang kalau saja Mama tahu, sudah tak terbendung sejak awal Desember lalu. Ma, Kakak kangen, bercerita panjang lebar. Semenjak Kakak kuliah, rasanya waktu kita semakin terkikis. Semakin kecil ruang hangat di hati Kakak. Tapi, katamu, "Ini semua juga buat, Mama, kan, Kak?" Iya, Ma. Ini semua memang aku jalani hanya untuk, Mama. Untuk membanggakan, Mama, juga Ayah. Untuk pembuktian ke saudara-saudara, Mama, yang semakin hari semakin picik dan licik itu.
Maa...
Siramlah aku dengan Ilmu Agama yang Mama miliki. Pupuklah aku dengan Ilmu kesederhanaan hidup yang mama punya. Dan, rawatlah aku dengan cinta dan kasihsayang yang tak akan pernah habis itu. Agar aku, tumbuh menjadi bunga dewasa yang kuat, sederhana, dan harum dimanapun.
Terimakasih, Ma. Bersyukur, bahwa dua puluh tahun ini, Mama tidak pernah mengajarkan gaya hidup tinggi: memakai pakaian mahal, mengendarai mobil mewah dan mengikuti gaya metropolitan ini. Sebab, menurutmu, sederhana lebih baik, kan, Ma? Mana bisa mereka merasakan nikmatnya nasi garam dari tanganmu. Romantisnya memakai baju hasil jahitan tanganmu. Dan, betapa luar biasa menakjubkannya saat aku, dan tentunya Mama, berjalan, dengan tangan yang tak terlepas.
Sehat terus, ya, Ma. Supaya aku, masih punya banyak waktu untuk terus berbakti, kepadamu. Supaya aku, masih memiliki banyak kesempatan untuk mengukir seulas senyum untukmu: yang sampai saat ini, masih terhitung dengan jari. Supaya aku dapat terus semangat, meraih semua itu. Meskipun, tidak akan pernah bisa membalas segalanya, Ma.
Terimakasih untuk selalu menjadi orang yang pertama di Dunia ini. Dan, menjadi orang yang paling mengerti aku: mauku, sifatku dan sikapku. Terimakasih telah menjadi malaikat tanpa sayap, yang tak pernah lelah menjaga dan memberi apapun yang kamu miliki. Terimakasih telah menerima keegoisanku, di dua puluh tahun ini.
Bolehkan, Ma, aku merayakan Hari Ibu, seperti anak-anak yang lainnya? Meskipun telat, aku ingin mengucapkan sekali lagi untukmu. Selamat Hari Ibu yaa, Ma.
Love you, Momsky.
Si pembangkang yang keras kepala.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar